Strategi NTT Atasi Kerawanan Pangan
Posted On 29 Oktober 2008 at di 02.52.00 by JawapogoMAUMERE, SELASA - Kerjasama antara berbagai pihak untuk mengatasi masalah kerawanan di Nusa Tenggara Timur sangat di perlukan agar NTT dapat terbebas dari masalah rawan pangan dan kemiskinan. Demikian kesepahaman para pihak dalam pembukaan acara NTT Food Summit dengan tema Momentum Membangun Ketahanan Pangan NTT Baru, di Maumere, Selasa (28/10).
"Sepanjang semua pemangku kepentingan belum duduk bersama mulai dari merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi serta merumuskan langkah tindak lanjut, maka sebagus apapun program yang dilaksanakan dan berapa pun uang yang disalurkan akan habis tidak berbekas," tegas Ir. Easthon Foenay, Wakil Gubernur NTT dalam pembukaan acara pagi tadi seperti dikutip dalam siaran pers ALIANSI untuk DESA SEJAHTERA. Foenay juga menyampaikan bahwa kejayaan NTT dapat dicapai melalui diversifikasi produksi, ketersediaan dan konsumsi pangan lokal, terutama jagung sebagai sumber makanan pokok.
Pentingnya kemandirian ditegaskan kembali oleh Ben Mboi, tokoh masyarakat NTT yang juga mantan Gubernur, yang menjadi pembicara utama dalam konferensi ini. "Bicara tentang pangan pangan bukan karena ada padi atau beras raskin yang dibagi-bagikan...rakyat NTT harus punya kecukupan pangan karena kekuatan dirinya sendiri, bukan karena diberi orang."
Mboi, mengingatkan bahwa dengan menyelenggarakan NTT Food Summit berarti pula ada keberanian dari semua pihak, termasuk DPRD untuk serius mengupayakan agar dalam 10 tahun tidak boleh ada lagi orang NTT yang lapar. "Kita harus berani mendeklarasikan perang terhadap kemikinan, yang dilaksanakan secara nyata."
Sebagai kawasan dengan kondisi iklim yang ekstrim dan sangat terancam dengan perubahan iklim, NTT perlu secara hati-hati memilih strategi bagi pertaniannya."Hati-hati kalau nanti mau memilih strategi untuk keluar dari kemiskinan, harus menempuh cara yang tidak konvensional," tambahnya lagi. (ALIANSI untuk DESA SEJAHTERA)
Selasa, 28 Oktober 2008 23:50 WIB
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/28/23502593/strategi.ntt.atasi.kerawanan.pangan
"Sepanjang semua pemangku kepentingan belum duduk bersama mulai dari merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi serta merumuskan langkah tindak lanjut, maka sebagus apapun program yang dilaksanakan dan berapa pun uang yang disalurkan akan habis tidak berbekas," tegas Ir. Easthon Foenay, Wakil Gubernur NTT dalam pembukaan acara pagi tadi seperti dikutip dalam siaran pers ALIANSI untuk DESA SEJAHTERA. Foenay juga menyampaikan bahwa kejayaan NTT dapat dicapai melalui diversifikasi produksi, ketersediaan dan konsumsi pangan lokal, terutama jagung sebagai sumber makanan pokok.
Pentingnya kemandirian ditegaskan kembali oleh Ben Mboi, tokoh masyarakat NTT yang juga mantan Gubernur, yang menjadi pembicara utama dalam konferensi ini. "Bicara tentang pangan pangan bukan karena ada padi atau beras raskin yang dibagi-bagikan...rakyat NTT harus punya kecukupan pangan karena kekuatan dirinya sendiri, bukan karena diberi orang."
Mboi, mengingatkan bahwa dengan menyelenggarakan NTT Food Summit berarti pula ada keberanian dari semua pihak, termasuk DPRD untuk serius mengupayakan agar dalam 10 tahun tidak boleh ada lagi orang NTT yang lapar. "Kita harus berani mendeklarasikan perang terhadap kemikinan, yang dilaksanakan secara nyata."
Sebagai kawasan dengan kondisi iklim yang ekstrim dan sangat terancam dengan perubahan iklim, NTT perlu secara hati-hati memilih strategi bagi pertaniannya."Hati-hati kalau nanti mau memilih strategi untuk keluar dari kemiskinan, harus menempuh cara yang tidak konvensional," tambahnya lagi. (ALIANSI untuk DESA SEJAHTERA)
Selasa, 28 Oktober 2008 23:50 WIB
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/28/23502593/strategi.ntt.atasi.kerawanan.pangan
Tokoh Agama Berperan Bangun Ketahanan Pangan
Posted On at di 02.49.00 by JawapogoMAUMERE, RABU - NTT Food Summit membuka ruang bagi berbagai pihak untuk bersama-sama membangun ketahanan pangan di NTT. MGr. Petrus Turang, Uskup Kupang, menyambut gembira atas dibukanya ruang bagi berbagai pihak, khususnya kelompok agama dalam pengembangan ketahanan pangan di NTT.
"Siapapun harus punya andil untuk membangun ketahanan pangan, pihak gereja telah memberikan pendampingan untuk pengembangan usaha tani dan pemenuhan pangan dan gizi dengan memperhatikan prinsip keadilan dan martabat untuk hidup dengan layak", jelasnya.
Pentingnya para tokoh keagamaan dan kepercayaan sebagai modal sosial yang berperan penting untuk mengatasi masalah rawan pangan di NTT juga disepakati oleh Dr. Tjuk Eko Hari Basuki, Kepala Pusat Kerawanan dan Ketersediaan Pangan Departemen Pertanian.
"Sangat penting untuk duduk bersama dan memetakan potensi dan manfaat yang diperoleh masing-masing pihak dalam pengelolaan secara bersama. Terlebih lagi tokoh agama memiliki peran penting di NTT ini." tambah Tjuk.
Tjuk mencontohkan di kawasan Gunung Kidul penanaman sayuran diatas pasir berhasil dilakukan dengan adanya kepercayaan, norma, kerjasama.
Saat ini masyarakat membutuhkan kepastian dari pemerintah untuk mendapatkan hak atas pangan. Turang menegaskan bahwa infra struktur fisik dan sosial harus dikembangkan secara efektif dan benar, agar potensi NTT dapat berkembang dengan optimal.
" Masyarakat membutuhkan dukungan untuk dapat menerapkan kearifan lokal benih lokal, bibit ternak lokal, adat-istiadat dan kepemilikan tanah lokal. Hal ini penting agar desa-desa di NTT tidak ditinggalkan oleh para pemudanya, karena kalau dibiarkan maka desa akan mati." tambahnya lagi
Saat ini di Sumba, dikembangkan keaneka ragaman tanaman dengan melibatkan masyarakat dan dan kelompok keagamaan. Tjuk menyatakan kemandirian pangan NTT perlu didasarkan pada pengembangan pangan lokal yang dimiliki NTT, karena keunggulan lokal punya ketahanan dan kearifannya sendiri-sendiri."Pertanian sudah seharusnya berbiaya rendah karena berdasarkan pada kelimpahan alam sekitarnya". (ALIANSI untuk DESA SEJAHTERA)
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/29/14355248/Tokoh.Agama.Berperan.Bangun.Ketaha
"Siapapun harus punya andil untuk membangun ketahanan pangan, pihak gereja telah memberikan pendampingan untuk pengembangan usaha tani dan pemenuhan pangan dan gizi dengan memperhatikan prinsip keadilan dan martabat untuk hidup dengan layak", jelasnya.
Pentingnya para tokoh keagamaan dan kepercayaan sebagai modal sosial yang berperan penting untuk mengatasi masalah rawan pangan di NTT juga disepakati oleh Dr. Tjuk Eko Hari Basuki, Kepala Pusat Kerawanan dan Ketersediaan Pangan Departemen Pertanian.
"Sangat penting untuk duduk bersama dan memetakan potensi dan manfaat yang diperoleh masing-masing pihak dalam pengelolaan secara bersama. Terlebih lagi tokoh agama memiliki peran penting di NTT ini." tambah Tjuk.
Tjuk mencontohkan di kawasan Gunung Kidul penanaman sayuran diatas pasir berhasil dilakukan dengan adanya kepercayaan, norma, kerjasama.
Saat ini masyarakat membutuhkan kepastian dari pemerintah untuk mendapatkan hak atas pangan. Turang menegaskan bahwa infra struktur fisik dan sosial harus dikembangkan secara efektif dan benar, agar potensi NTT dapat berkembang dengan optimal.
" Masyarakat membutuhkan dukungan untuk dapat menerapkan kearifan lokal benih lokal, bibit ternak lokal, adat-istiadat dan kepemilikan tanah lokal. Hal ini penting agar desa-desa di NTT tidak ditinggalkan oleh para pemudanya, karena kalau dibiarkan maka desa akan mati." tambahnya lagi
Saat ini di Sumba, dikembangkan keaneka ragaman tanaman dengan melibatkan masyarakat dan dan kelompok keagamaan. Tjuk menyatakan kemandirian pangan NTT perlu didasarkan pada pengembangan pangan lokal yang dimiliki NTT, karena keunggulan lokal punya ketahanan dan kearifannya sendiri-sendiri."Pertanian sudah seharusnya berbiaya rendah karena berdasarkan pada kelimpahan alam sekitarnya". (ALIANSI untuk DESA SEJAHTERA)
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/29/14355248/Tokoh.Agama.Berperan.Bangun.Ketaha
nan.Pangan
Warga di Watunggelek Minum Air Kali
Posted On 17 Agustus 2008 at di 22.18.00 by Jawapogo
LABUAN BAJO, PK --Warga Dusun Handel dan Dusun Tana Dereng, Desa Watunggelek, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), sejak puluhan tahun lalu sampai sekarang masih mengonsumsi air Kali/Sungai Wae Mese.Pantauan Pos Kupang, Kamis (31/7/2008) sore, warga di dua wilayah itu berbondong membawa jerigen untuk menimba air di sungai. Air sungai yang diambil selain sebagai tempat mandi dan cuci, juga digunakan ternak kerbau untuk berkubangan. Karena kesulitan air bersih, mereka terpaksa mengambil langsung air sungai disepanjang daerah aliran sungai/DAS. Ada yang ambil langsung, dan ada juga yang membuat kubang/lubang kecil agar terjadi resapan air kemudian diambil untuk kebutuhan air bersih.
Beberapa warga Dusun Handel, masing-masing Gabriel Jahan, Muhamad Pikarto, Theresia Tenang dan Anselmus Pance, mengaku selama ini mereka hanya memanfaatkan air sungai Wae Mese sebagai tumpuan hidup. Namun dari segi kesehatan air itu tidak layak konsumsi.
Gabriel Jahan menjelaskan, masalah air bersih di kampung itu sudah berlangsung sejak kampung ada namun belum ada perhatian pemerintah setempat mengenai kondisi tersebut. Tapi warga juga tetap tidak mempersoalkan.
"Kami di sini tidak dapat menikmati air bersih. Dari pada mencari di tempat yang jauh terpaksa air sungai yang juga sebagai kubangan kerbau diambil untuk air minum. Habis mau cari dimana lagi," kata Jahan.
Dia mengatakan, beberapa waktu lalu ada upaya Pater Waser untuk masukan air ke dusun itu namun terdapat beberapa hambatan sehingga dibatalkan.
Warga lainnya, Muhamad Pikarto dan Theresia Tenang ditemui terpisah mengatakatan hal yang sama. Menurut Pikarto, di wilayah itu sulit ditemukan sumber air kecuali sumber air di Mbuhung tapi belum dimanfaatkan.
"Kami sudah biasa ambil dan minum air kali sehingga tidak ada dampak seperti sakit dan lainnya," ujar Pikarto dan Tenang.
Anselmus Pance, warga Dusun Tana Dereng mengeluhkan kondisi air minum di dusun itu. "Kami dan warga di Handel sampai sekarang minum air kali. Air ini juga dipakai ternak untuk berkubang namun apa boleh buat kami harus memanfaatkan," kata Pance.
Kepala Dusun Handel, Ahmad Hasan ditemui di kediamannya, mengaku sejak lahirnya kampung ini warga sudah konsumsi air sungai meski kerbau dan sapi sama-sama gunakan air itu.
Dia menyebutkan, jumlah warga dusun sebanyak 64 kepala keluarga (KK) dengan 233 jiwa. "Semua warga minum air kali namun bersyukur tidak terjadi kejadian seperti diare dan penyakit lainnya. "Kami berharap pemerintah terutama dewan setempat memperhatikan masalah ini tapi cuma janji kosong. Kalau butuh rakyat datang dan beri janji muluk," ujarnya. (yel)
Pos Kupang 2 Agustus 2008, halaman 16
Warga Macang Tanggar Minum Air Asin
Posted On at di 21.57.00 by Jawapogo
LABUAN BAJO, PK --Warga Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) hingga saat ini masih mengonsumsi air asin (payau) yang berasal dari muara Sungai Nanganae. Selain untuk kebutuhan air minum, warga juga memanfaatkan air sungai itu untuk mandi, cuci karena ketiadaan air bersih di wilayah itu.Seperti disaksikan Pos Kupang, Sabtu (9/8/2008), warga yang berada di Dusun Nanganae asyik mencuci, mandi dan mengambil air di sungai tersebut. Mereka sudah terbiasa mengonsumsi air itu meski di sekitar lokasi pengambilan terdapat kubangan kerbau.
Untuk mendapat air yang kurang asin, mereka harus menunggu sampai air laut surut, karena jika air laut surut, maka sungai tersebut berkurang volume air lautnya menyisakan lebih banyak air sungai asli walau rasanya tetap payau.
Jika air laut pasang, maka lokasi pengambilan air di sungai tersebut turut pasang sehingga kadar garamnya tinggi. Air dengan kondisi seperti ini jarang digunakan warga untuk mengonsumsi kecuali untuk mandi atau mencuci.
Warga biasanya menunggu hingga air laut surut baru bisa mengambil air sungai untuk konsumsi. Mereka sudah sangat paham dan mengetahui pasang surut laut yang turut berpengaruh pada air sungai tersebut.
Muhamad Nur, salah seorang warga Macang Tanggar mengakui, mereka selama ini tidak merasakan air bersih kecuali jika membelinya di Desa Gorontalo, atau ke Labuan Bajo. "Kami tidak bisa mengelak dari kondisi ini. Air yang kami minum selama ini berasal dari air sungai yang rasanya asin akibat berada pada posisi muara," kata Nur.
Soal keberadaan air bersih, Nur mengaku, beberapa tahun lalu sudah ada proyek air bersih yang masuk di desa itu, namun tidak berfungsi setelah mengalir beberapa hari.
Dia menjelaskan, untuk memperoleh air yang kadar garamnya rendah, warga harus menunggu hingga air surut. Jika air sementara pasang, maka yang ada di sungai itu hanyalah air laut murni yang sering digunakan untuk mandi dan cuci.
Penjabat Kepala Desa Macang Tanggar, Armin Bahali, ditemui di kediamannya, membenarkan kondisi warganya. Menurut Bahali, di desa itu terdapat 800 jiwa yang mengonsumsi air asin akibat proyek air bersih yang masuk di desa itu tidak memuaskan.
Tentang kemungkinan warga yang minum air kali menderita penyakit diare dan sebagainya, Bahali mengatakan, soal penyakit sering terjadi, namun hanya pada pergantian musim. "Tahun lalu ada proyek air bersih yang masuk desa ini tapi hanya mengalir 10 hari kemudian macet sampai sekarang. Kami minta pemerintah kabupaten bisa melihat kondisi warga yang sulit ini. Sekarang warga lagi menderita karena minum air asin," kata Bahali. (yel)
Pos Kupang 11 Agustus 2008, halaman 16
Diare, 6 Balita Dirawat di RSUD SoE
Posted On at di 21.54.00 by JawapogoSoE, PK-- Enam anak usia di bawah lima tahun (balita) di rawat intensif di bangsal anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) SoE karena diserang diare.
Keenam anak itu adalah Natasia Bende (1,6 tahun, asal Kasetnana, Kecamatan Mollo Selatan), Deli Antonia Tefa (1,1 tahun, asal Oenlasi, Kecamatan Amanatun Selatan), Junedi Talan (8 bulan, asal Pusu, Kecamatan Amanuban Barat), Kevin Sanam (2 tahun, asal Desa Biloto, Kecamatan Mollo Selatan), Yanner Tine (6 bulan, asal Desa Polo, Kecamatan Amanuban Selatan) dan Alda Lasfeto (1,2 bulan, asal Kota SoE.
Pantuan Pos Kupang di RSUD SoE, Selasa (12/8/2008), ke-6 balita itu masih dirawat di RSUD SoE. "Mencretnya sudah mulai berkurang sejak kami dirawat di rumah sakit, Senin (11/8/2008). Sebenarnya anak kami sakit sejak hari Kamis (7/8/2008). Anak kami sempat dibawa ke Puskesmas Siso dan diberikan oralit serta tetra. Namun entah kenapa dia kembali mencret sebanyak sembilan kali disertai muntah," ujar Uriance Kase, ibunda Kevin Sanam.
Uriance mengaku tidak tahu penyebab anaknya diserang diare. Warga di sekitar rumahnya, kata dia, juga tidak ada yang diare. "Mungkin ini karena kondisi anak saya kurang sehat dan pergantian musim," katanya.
Sementara Jumina Suat mengatakan, anaknya,Yanner Tine, dilarikan di RSUD SoE karena kondisi tubuh anaknya sudah lemas saat dibawa ke Puskesmas Panite. Berbekal rujukan Puskesmas Panite, ia akhirnya membawa Yanner untuk dirawat di RSUD SoE.
"Saya bersyukur, biar badannya masih lemah tapi sudah ada perubahan. Saya tidak tahu bagaimana nasib anak saya bila terlambat dibawa ke rumah sakit," ujar Jumina yang menambahkan bahwa selama anaknya dirawat tidak ada pungutan biaya dari rumah sakit karena ia menggunakan kartu askeskin.
Informasi yang dihimpun di RSUD SoE, selama dua pekan terakhir setidaknya sudah 22 anak dirawat di rumah sakit karena terserang diare. Dari 22 pasien yang masuk, 16 balita sudah sembuh dan enam lainnya masih dirawat di bangsal anak.
Rata-rata anak yang terkena diare tidak membutuhkan perawatan yang lama untuk penyembuhannya. Hanya dalam waktu tiga hingga empat hari kondisi kesehatan anak sudah membaik pasca dirawat di RSUD SoE. (aly)
Pos Kupang 14 Agustus 2008, halaman 15
Lanjut...
Keenam anak itu adalah Natasia Bende (1,6 tahun, asal Kasetnana, Kecamatan Mollo Selatan), Deli Antonia Tefa (1,1 tahun, asal Oenlasi, Kecamatan Amanatun Selatan), Junedi Talan (8 bulan, asal Pusu, Kecamatan Amanuban Barat), Kevin Sanam (2 tahun, asal Desa Biloto, Kecamatan Mollo Selatan), Yanner Tine (6 bulan, asal Desa Polo, Kecamatan Amanuban Selatan) dan Alda Lasfeto (1,2 bulan, asal Kota SoE.
Pantuan Pos Kupang di RSUD SoE, Selasa (12/8/2008), ke-6 balita itu masih dirawat di RSUD SoE. "Mencretnya sudah mulai berkurang sejak kami dirawat di rumah sakit, Senin (11/8/2008). Sebenarnya anak kami sakit sejak hari Kamis (7/8/2008). Anak kami sempat dibawa ke Puskesmas Siso dan diberikan oralit serta tetra. Namun entah kenapa dia kembali mencret sebanyak sembilan kali disertai muntah," ujar Uriance Kase, ibunda Kevin Sanam.
Uriance mengaku tidak tahu penyebab anaknya diserang diare. Warga di sekitar rumahnya, kata dia, juga tidak ada yang diare. "Mungkin ini karena kondisi anak saya kurang sehat dan pergantian musim," katanya.
Sementara Jumina Suat mengatakan, anaknya,Yanner Tine, dilarikan di RSUD SoE karena kondisi tubuh anaknya sudah lemas saat dibawa ke Puskesmas Panite. Berbekal rujukan Puskesmas Panite, ia akhirnya membawa Yanner untuk dirawat di RSUD SoE.
"Saya bersyukur, biar badannya masih lemah tapi sudah ada perubahan. Saya tidak tahu bagaimana nasib anak saya bila terlambat dibawa ke rumah sakit," ujar Jumina yang menambahkan bahwa selama anaknya dirawat tidak ada pungutan biaya dari rumah sakit karena ia menggunakan kartu askeskin.
Informasi yang dihimpun di RSUD SoE, selama dua pekan terakhir setidaknya sudah 22 anak dirawat di rumah sakit karena terserang diare. Dari 22 pasien yang masuk, 16 balita sudah sembuh dan enam lainnya masih dirawat di bangsal anak.
Rata-rata anak yang terkena diare tidak membutuhkan perawatan yang lama untuk penyembuhannya. Hanya dalam waktu tiga hingga empat hari kondisi kesehatan anak sudah membaik pasca dirawat di RSUD SoE. (aly)
Pos Kupang 14 Agustus 2008, halaman 15