Memprihatinkan, Kesadaran Memberi ASI di Indonesia

Jakarta, 27/8/2007 (ANTARA) - Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta mengatakan bahwa meskipun usaha untuk meningkatkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sangat gencar dilakukan, tapi kesadaran masyarakat untuk pemberian ASI di Indonesia masih memprihatinkan.

"Cakupan ASI eksklusif 6 bulan hanya 39,5 persen dari keseluruhan bayi dan hal yang sangat menyedihkan adalah peningkatan pemakaian susu formula sampai tiga kali lipat antara 1997-2002," kata Meutia Hatta pada acara puncak peringatan pekan ASI sedunia 2007 di Istana Negara, Senin.

Menurut dia, berdasarkan data yang ada pada 2002-2003 bayi dibawah usia 4 bulan yang diberikan ASI eksklusif hanya 55 persen sementara itu pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 2 bulan hanya 64 persen, 46 persen pada bayi berumur 2-3 bulan dan 14 persen pada bayi berumur 4-5 bulan.

Dikatakan bahwa permasalahan yang mengakibatkan masih rendahnya penggunaan ASI di Indonesia adalah faktor sosial budaya, kurangnya pengetahuan akan pentingnya ASI, jajaran kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung program pemberian ASI, gencarnya promosi susu formula dan kurangnya dukungan dari masyarakat termasuk institusi yang mempekerjakan perempuan untuk ibu menyusui.

Oleh karena itu, lanjut dia, keberhasilan ibu menyusui juga ditentukan oleh dukungan yang terus menerus dari suami, keluarga, petugas kesehatan dan masyarakat untuk terus menyusui bayinya.

"Salah satu alasan ibu tidak berhasil memberikan ASI eksklusif adalah ketidakmampuan bayi menghisap ASI dengan benar karena penolong persalinan yang memisahkan bayi dari ibunya begitu dilahirkan menghambat naluri bayi," ujarnya.

Sejalan dengan itu, lanjut dia, Tema Pekan ASI sedunia 2007 adalah mengangkat inisiasi menyusu dini, setelah dilahirkan bayi langsung diletakkan di perut ibu sehingga bayi secara alamiah akan mencari puting susu ibunya dan menghisap ASI.

"Keberhasilan inisiasi menyusu dini akan membantu keberhasilan menyusui secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai anak berusia 2 tahun," katanya.

Mengacu pada Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), kata Meneg PP, inisiasi menyusu dini yang dilanjutkan hingga 6 bulan dan 2 tahun dapat membantu mempercepat pencapaian menghapus kemiskinan dan kelaparan.

"Hilangnya kesempatan memperoleh ASI menyebabkan lebih dari lima juta anak balita, termasuk bayi kurang dari 1 tahun, menderita kurang gizi dan sekitar 1,7 juta balita mengalami gizi buruk," katanya.

Tindakan inisiasi menyusu dini juga akan sangat membantu tercapainya tujuan MDGs nomor emat yaitu mengurangi angka kematian anak karena menyusu dini dalam satu jan pertama setelah melahirkan akan mengurangi kematian bayi baru lahir, ujarnya.

"Setiap ibu harus dibantu agar mendapat kesempatan untuk dapat menyusui mulai satu jam pertama," katanya.

Tema peringatan pekan ASI Sedunia 2007 adalah "Menyusu Satu Jam Pertama Kehidupan Dilanjutkan dengan Menyusui Eksklusif 6 bulan, Menyelamatkan Lebih Dari 1 juta Bayi".(*)
Lanjut...

Posted in Label: , | 1 komentar

ASI Eksklusif Penangkal Gizi Buruk pada Bayi

Medan (ANTARA News) - Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi usia 0-6 bulan tanpa diselingi makanan lain (eksklusif) secara teratur merupakan salah satu upaya pencegahan gizi buruk pada bayi.

Ketua Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara (USU), Drs Jumirah Apt M Kes, di Medan, Sabtu, mengatakan, dewasa ini masih banyak ibu yang tidak menyadari bahwa ASI merupakan salah satu penangkal gizi buruk karena memiliki protein tinggi, steril, dan merupakan anti bodi terbaik bagi bayi.

Ia mengatakan, gizi buruk merupakan permasalahan komplek yang disebabkan banyak faktor diantaranya perilaku ibu, penyakit dan kurangnya asupan makanan yang bergizi.

Fenomena saat ini adalah banyaknya perilaku ibu yang memberikan susu formula pada bayinya. Padahal salah satu penyebab gizi buruk adalah banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI pada bayinya.

Ini disebabkan banyaknya ibu yang tidak faham bahwa ASI adalah makanan yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Umar Zein, mengatakan, terjadinya kasus gizi buruk pada balita disebabkan banyak faktor.

Beberapa diantaranya disebabkan menurunnya daya beli masyarakat terhadap makanan bergizi, penyakit yang diderita sehingga tubuh tidak bisa menyerap gizi dari makanan yang dikonsumsi dan minimnya pengetahuan orang tua terhadap makanan bergizi. 

"Demi menekan kasus gizi buruk di Medan, kami akan terus melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat serta makanan bergizi," katanya.(*)
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

Produk Pangan Indonesia Ditolak Karena Kotor

Jakarta (ANTARA News) - Sekitar 33-80 persen atau rata-rata 62 persen produk pangan Indonesia yang ditolak masuk di pasar internasional (AS) karena alasan keamanan pangan, dengan kata lain atas alasan filthy atau kotor.

Direktur Southeast Asian Food & Agricultural Science & Tecnology (Seafast) Center, IPB, Dr Purwiyatno Hariyadi mengatakan, filthy terjadi karena masih kurang atau tidak diterapkannya prinsip-prinsip penanganan dan pengolahan yang baik dalam proses produksi pangan.

Di sela Konferensi "Investing in Food Quality, Safety and Nutrition" di Jakarta, Selasa, ia menyesalkan hal tersebut bisa terjadi. Karena, menurut dia, prinsip penanganan dan pengolahan yang baik sebenarnya tidak sulit dan tidak memerlukan investasi yang terlalu besar, sementara pengaruhnya bisa meningkatkan perekonomian skala kecil secara signifikan.

Karena itu industri pangan yang didominasi oleh Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) itu, lanjut dia, perlu mendapatkan skema pemberdayaan yang tepat dalam rangka menjamin pangan yang bermutu, aman dan bergizi.

Ia menambahkan bahwa soal kondisi mutu dan keamanan pangan nasional kenyataannya tidak terlalu bagus, dan ditunjukkan oleh data keracunan pangan yang secara kualitatif, menunjukkan rendahnya kondisi sanitasi dan higiene sarana produksi pangan di Indonesia.

Ia mencontohkan, dari data kejadian luar biasa (KLB) yang tercatat sejumlah 610 KLB dari tahun 2001-2006, diketahui bahwa penyebab keracunan utama adalah karena mikroba dan umumnya terjadi pada produk pangan yang dihasilkan oleh industri rumah tangga dan jasa Boga.

"Banyak UMKM yang sarana produksinya tidak memenuhi ketentuan; sehingga tidak mampu menerapkan GMP (good manufacturing practices) secara konsisten. Bahkan, untuk industri rumah tangga pangan, sebesar 75,91 persen dari total sarana tidak memenuhi ketentuan," katanya.

Karena itu kepada industri rumah tangga pangan itu, ujarnya, perlu difasilitasi agar mampu melengkapi diri dengan sarana dan prasarana dasar sanitasi dan higiene yang diperlukan dalam pelaksanaan proses produksi pangan sesuai dengan kaidah GMP. (*)

http://www.antara.co.id/arc/2008/10/28/62-persen-produk-pangan-indonesia-ditolak-
karena-koto r/
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

Bank Dunia: Cadangan Pangan Indonesia Kritis

Jakarta (ANTARA News) - Bank Dunia memperingatkan bahwa cadangan pangan Indonesia berada dalam titik terendah sehingga bisa menjadi masalah serius jika tidak diatasi sejak awal.

"Cadangan pangan berada di titik terendah itu terjadi di seluruh dunia, saya sudah bilang pada Juni 2007 lalu, itu menjadi warning (peringatan) untuk kita," kata Deputi Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Selasa.

Ia menyebutkan, cadangan pangan dunia turun hampir separuh yang kemudian menyebabkan kenaikan harga pangan pada saat ini.

Menurut dia, kenaikan harga pangan dunia juga diperparah dengan kondisi pasar keuangan dunia (pasar uang dan pasar modal) yang tidak terlalu menggembirakan karena suku bunga global (khususnya) di AS yang sangat rendah.

Dengan kondisi seperti itu, saat ini banyak sekali investor yang beralih ke pasar komoditas, sehingga yang banyak bergerak adalah "paper market" (bursa berjangka) dari komoditas.

"Ini menurut saya adalah situasi baru yang terjadi dalam 20 tahun terakhir. Ini saya kira harus direspon oleh seluruh pengambil kebijakan di dunia termasuk Indonesia. Kita belum memutuskan apa yang akan kita lakukan untuk meredam dampak negatif dari fluktuasi yang diakibatkan oleh spekulasi dan bergeraknya paper market dari komoditas. Ini yang sedang kita cari bersama-sama," katanya.

Menurut dia, dalam waktu tidak terlalu lama jika harga minyak kelapa sawit (CPO) dan kedelai terus naik maka konsumennya tidak akan kuat membeli.

"Ini yang jadi problem bagi semua, dan saya kira ini akan direspon oleh semua," katanya.(*)

http://www.antara.co.id/arc/2008/3/4/bank-dunia-peringatkan-cadangan-pangan-indonesia-kritis/
Lanjut...

Posted in Label: | 1 komentar

Pakar Pangan dan Petani Perangi Kelaparan

MAUMERE, PK--Menyongsong Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) XVIII tahun 2008 tingkat Propinsi NTT, pakar pangan, pejabat pusat, propinsi, kabupaten/kota se-Propinsi NTT, serta perwakilan petani se-NTT berkumpul di Kota Maumere, Ibu kota Kabupaten Sikka. Pertemuan ini digelar dalam upaya menyamakan persepsi, merumuskan program kerja memerangi kelaparan, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan ketahanan pangan di NTT.

Kegiatan bertemakan "NTT Food Summit 2008, Momentum Membangun Ketahanan Pangan NTT Baru" ini digelar di Aula Hotel Benggoan 3, Maumere tanggal 28-29 Oktober. Puncak HPS tingkat Propinsi NTT tanggal 30 Oktober 2008 akan dilaksanakan di Kecamatan Waigete.

Kegiatan ini buka Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Ir. Esthon Foenay, M.Si, dihadiri Kepala Badan Ketahanan Pangan Deptan, Prof. Dr. Ahmad Suryana; Setwapres Karo KLH Bidang Kesra, Dr. Sonya Priyatharsini; Kapus Ketersediaan dan Kerawanan Pangan BKP Deptan, Dr. Ir. Tjuk Eko.

Hadir pula Ketua DPRD NTT, Drs. Mell Adoe, dan sejumlah anggota DPRD se-kabupaten di NTT, para bupati/wakil bupati serta pejabat instansi terkait serta Bupati Sikka, Drs. Sosismus Mitang, dan jajarannya. Juga, sejumlah pengurus NGO nasional, lokal dan internasional; organisasi internasional seperti WFP, FAO, Unicef; lembaga keamanan, pakar pangan dari universitas dan Litbang NTT, serta mantan Gubernur NTT, dr. Ben Mboi.
Menurut Wagub Esthon Foenay, selama ini berbagai kegiatan pertemuan, apresisi, workshop tentang ketahanan pangan dan gizi, baik yang dilaksanakan institusi maupun elemen masyarakat belum maksimal menghasilkan hal yang bermanfaat bagi ketahanan pangan di NTT.

"Sampai sekarang kita masih bergelut dengan masalah ketidaktahanan pangan dan gizi di NTT. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa sepanjang semua pemangku kepentingan belum duduk bersama mulai dari merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi serta merumuskan langkah tindak lanjut, maka sebagus apa pun program kegiatan yang dilaksanakan dan berapa pun uang yang disalurkan kepada masyarakat, tetap saja habis tak berbekas," kata Wagub Esthon Foenay.

Diharapkan kegiatan 'Food Summit 2008' dapat dijadikan momen bersejarah untuk menghasilkan rekomendasi dan aksi tindak lanjut bagi peningkatan ketahanan pangan di NTT.
Ia mengajak semua pihak dapat mewujudkan kembali kejayaan NTT melalui diversifikasi produksi, ketersediaan dan konsumsi pangan lokal, terutama jagung sebagai sumber pangan pokok utama.

Hal-hal yang perlu menjadi perhatian dalam kegiatan ini, antara lain, pertama, evaluasi berbagai persoalan ketahanan pangan dan gizi di NTT guna mendapatkan pokok rumusan upaya pemecahannya. Kedua, merumuskan deklarasi 'NTT Food Summit' mencakup keseluruhan aspek ketahanan pangan dan gizi di NTT, serta merumuskan rencana aksi peningkatan ketahanan pangan dan gizi di NTT dengan pemetaan peran dan fungsi pemangku kepentingan baik jangka pendek, menengah dan panjang.

Setwapres Karo KLH Bidang Kesra, Dr. Sonya Priyatharsini, mengakui, selama ini berbagai upaya pemerintah pusat untuk meningkatkan ketahanan pangan di NTT dalam bentuk dana sudah diberikan, namun belum memperoleh hasil maksimal. Diharapkan kegiatan ini bisa merekomendasikan berbagai program guna meningkatkan ketahanan pangan di NTT.

Hal senada disampaikan mantan Gubernur NTT, Ben Mboi. Ben Mboi mengharapkan agar pertemuan yang dihadiri para pejabat, penentu kebijakan itu bisa mewujudkan peningkatan ketahanan pangan di NTT. (vel)

Pos Kupang 29 Oktober 2008 halaman 16, http://www.pos-kupang.com
Lanjut...

Posted in Label: , | 0 komentar