Gizi Buruk Meningkat

Banjarmasin, Kompas - Temuan kasus anak balita bergizi buruk di Kalimantan Selatan meningkat. Apabila bulan Maret terdapat 14 kasus, pertengahan Juni jumlahnya melonjak menjadi 95 kasus, 6 di antaranya meninggal. Selain kemiskinan dan rendahnya pengetahuan, kurangnya tenaga kesehatan juga menjadi penyebab.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan Rosehan Adani melalui Kepala Subdinas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Rudiansyah, Kamis (19/6/2008) di Banjarmasin, menyatakan, kasus gizi buruk terjadi hampir merata di 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Anak balita penderita gizi buruk kini mendapat makanan tambahan berupa bubur instan, biskuit, dan susu. Selain itu, tiap keluarga mendapat Rp 750.000 dari Pemerintah Provinsi Kalsel untuk perbaikan gizi.

Menurut Rudiansyah, kesehatan anak balita tidak terpantau karena 95 persen tidak pernah dibawa ke posyandu. Selain miskin, kesadaran orangtua terhadap kesehatan rendah akibat rendahnya pendidikan. "Pendidikan orangtua 90 persen hanya sekolah dasar, bahkan ada yang tidak tamat," katanya.

Pelayanan kesehatan juga terbatas. Dari 1.892 desa di Kalsel, sebanyak 816 desa belum punya bidan desa. Pemprov Kalsel menargetkan, tahun 2010 seluruh desa di Kalsel memiliki bidan. Rudiansyah memprediksikan, temuan gizi buruk akan makin banyak akibat makin beratnya kondisi ekonomi.

Salah satu penderita, Aminah (2), anak bungsu Farida (35), saat ditemui rumah kontrakan di Gang Gandapura, Banjarmasin, Kamis petang, kondisinya mulai membaik setelah mendapat makanan tambahan.

Farida punya tiga anak lain, yaitu Fitri (10), Muhammad (7) yang berbadan kurus dan tidak bisa bicara, dan Suharda (6) yang mengalami lumpuh. Farida bekerja sebagai pengupas bawang. Suaminya, Ramli, bekerja di Malaysia dan tidak ada kabar.

Sementara di Palangkaraya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah Djono Koesanto menuturkan, pihaknya berusaha menjaring kasus anak balita bergizi buruk di Kalteng lewat posyandu. Ada 1.700 posyandu aktif di 13 kabupaten/kota di Kalteng. Hasilnya, lima bulan terakhir ditemukan 10 kasus gizi buruk di beberapa kabupaten.

Selain mengaktifkan posyandu, ada juga proyek percontohan memberantas gizi buruk dengan menempatkan 10 lulusan akademi gizi sebagai pendamping dan pelatih kader posyandu serta mengunjungi warga untuk memberikan penyuluhan kesehatan dan gizi kepada para orangtua.
Para petugas dikontrak Dinas Kesehatan Kalteng dengan upah Rp 500.000 per bulan. (FUL/CAS)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/20/01102090/gizi.buruk.meningkat
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

Mama, Eh....Sudah Cape Tidur

TUBUH Geraldino Dira (2) terbaring lemah di Ruang Rawat Inap Kelas III Kenanga, RSUD WZ Yohannes, Kupang, Rabu (18/6). Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit. Sebatang jarum infus tertancap di tangan kiri yang disangga bantal.

Bocah laki-laki itu menderita infeksi paru, demam, dan diare berat sejak Desember 2007. Ia dirawat di rumah sakit akhir April 2008. Saat masuk, berat badannya 5,6 kilogram; dari yang seharusnya 15 kg. Kini berat badannya naik menjadi 5,8 kg.

Ibu Geraldino, Agnes Dira (24), menunggui di samping tempat tidur, sedangkan nenek Geraldino, Maria (54), duduk di lantai sambil menyandarkan punggung ke dinding.

"Saat Geraldino sakit, aku dan suamiku sedang sibuk menyelesaikan skripsi di Universitas Nusa Cendana, Kupang. Suami ambil Teknik Elekro dan aku ambil Biologi," kata Agnes.

Warga Kelurahan Fontein, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini kini sudah diwisuda. Namun, ia belum mencari pekerjaan karena menunggui anaknya yang sakit.

Ayah Geraldino, Fery Dira (29), juga belum punya pekerjaan tetap. Selama ini mereka masih bergantung pada Ny Maria yang telah menjanda. Untuk membawa Geraldino ke rumah sakit, mereka berbekal surat keterangan miskin dari ketua RT.

Geraldino terus merengek. Beberapa kali ia menatap mamanya sambil minta digendong. "Mama, eh. sudah cape tidur, minta gendong," pintanya.

Di bangsal lain, ada Emanuel (1,5) yang sudah dirawat 10 hari. Ia didiagnosis menderita maramus. Berat badannya hanya 4,8 kg. Anak pasangan Luki Ndun- Meri Ndun ini sulit makan, tetapi niat pihak rumah sakit untuk memasang infus ditolak Meri dengan alasan Emanuel tidak sakit berat. Meri tidak sekolah, sementara suaminya yang bekerja sebagai penjual ikan hanya bersekolah sampai kelas II SD.

Kepala Bidang Pelayanan RSUD WZ Yohannes dr E Frank Touw menuturkan, perawatan pihak rumah sakit sering ditolak keluarga pasien. Petugas perlu waktu beberapa hari untuk meyakinkan keluarga pasien. Akhirnya, banyak pasien tidak terselamatkan. "Padahal, perawatan kelas III di rumah sakit cuma-cuma karena pasien memiliki asuransi kesehatan untuk keluarga miskin," tuturnya.

Menurut Touw, penyebab utama gangguan gizi pada anak balita adalah pola makan. Orangtua mereka umumnya lebih banyak memberikan keripik dan makanan kecil dalam kemasan, kembang gula atau mi instan, dan kurang sabar untuk memberi nasi, ikan, sayuran, serta buah-buahan yang diperlukan untuk pertumbuhan anak.

Kemiskinan serta kurangnya pendidikan dan pengetahuan tentang kesehatan menjadi penyebab umum kasus gizi buruk.

Saat Kompas ke Dusun IV, Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, ada Iranda Isliko (1,5) yang berat badannya hanya 7,5 kg. Iranda hanya mau minum susu dan makan mi instan. Karena orangtuanya yang penyadap lontar tidak mampu lagi membeli susu, Iranda hanya diberi air nira lontar dan air gula.

Tetangganya, Bernadino Salem (5), berat badannya hanya 9 kg. Tubuhnya sangat pendek.

Ibu Bernadino, Ny Porsina Salem, menuturkan, tiap hari Dino pergi bermain sampai sore. Porsina tidak memanggil anaknya untuk makan karena tidak ada makanan. Pagi hari, Dino hanya diberi air nira lontar. Malam hari, kami makan singkong rebus atau sisa beras. Kalau tidak ada makanan, kami langsung tidur. Untuk Dino, kami beri mi instan," kata Porsina.

Stanis Salem, ayah Dino, adalah petani, tetapi sering gagal panen karena tanah desa tandus. Ketua Kader Posyandu Dusun IV Oelnasi Penina Tamnau mengatakan, penderita gizi buruk di dusun itu ada 18 anak dan gizi kurang 67 anak.

Penina Tamnau mengaku tidak memberi penyuluhan tentang gizi kepada para ibu rumah tangga. Lulusan kelas III SD ini tak paham mengenai gizi. Dia tidak mendapat pembekalan dari petugas kesehatan. Tugasnya hanya mengingatkan para ibu untuk menimbang anak balita serta ibu hamil untuk periksa di posyandu setiap bulan jika bidan datang dari Kota Kupang. (KORNELIS KEWA AMA)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/21/01535725/mama.eh....sudah.cape.tidur.minta.gendong...

Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

Bulog Pastikan Mampu Jaga Pangan

Jakarta, Kompas - Bulog memastikan mampu menjaga ketersediaan pangan meski musim paceklik akan dimulai Oktober 2008. Sementara fluktuasi harga beras ke depan bergantung pada kondisi permintaan dan penawaran. Departemen Pertanian memperkirakan produksi beras tahun ini lebih baik daripada tahun lalu.

Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar, Selasa (10/6/2008) di Jakarta, mengungkapkan, Bulog dan jajarannya akan tetap mengupayakan jaminan ketersediaan pangan, khususnya beras, sampai tiga bulan.

Hal ini dilakukan mengingat musim paceklik tahun 2008 dimulai Oktober saat produksi beras jauh di bawah konsumsi beras rata-rata nasional sebulan 2,6 juta ton. Teknisnya, ketersediaan pangan itu selalu disiapkan di gudang-gudang Bulog, baik gudang di Divisi Regional maupun gudang Dolog.

Hingga dua hari lalu ketersediaan beras di Bulog sebanyak 1,8 juta ton. Jumlah itu cukup untuk kebutuhan beras untuk rakyat miskin (raskin) selama enam bulan. Rata-rata penyaluran raskin per bulan 300.000 ton. Diupayakan ketersediaan stok beras ini tetap terjaga sehingga mampu menutup defisit beras pada musim paceklik nanti.

Menurut Mustafa, kemampuan masyarakat mengakses beras sangat dipengaruhi ketersediaan raskin dan fluktuasi harga di pasaran. Sementara fluktuasi harga itu sendiri sangat bergantung pada permintaan dan penawaran.

Selain dipengaruhi permintaan yang bersifat rutin, tinggi rendahnya permintaan beras nasional juga disebabkan spekulasi pedagang dan potensi merembesnya beras ke luar negeri karena pengaruh disparitas harga. Sementara suplai sangat tergantung dari produksi.

Produksi lebih baik

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso memperkirakan produksi beras tahun 2008 akan lebih baik daripada tahun lalu.

Menurut Sutarto, ada empat indikator yang bisa menunjukkan perbaikan produksi. Pertama, realisasi tanam periode Oktober 2007-Mei 2008 mencapai 10,11 juta hektar atau lebih tinggi 81.000 ha (0,81 persen) dibandingkan realisasi tanam periode yang sama tahun 2006/2007.

Kedua, penyaluran pupuk bersubsidi periode Januari-April 2008 mengalami peningkatan. Penyaluran pupuk urea mencapai 1,603 juta ton atau sekitar 119,3 persen dibandingkan tahun 2007 sebanyak 1,344 juta ton.

Penyaluran SP-36 Januari-April 2008 sebanyak 242.593 ton (88,29 persen dibanding realisasi 2007), ZA 247.501 ton (107,17 persen), dan NPK 284.595 ton (170,13 persen).

Ketiga, penyaluran benih bermutu periode Oktober 2007-Maret 2008 mencapai luasan 102.345 ton atau setara luas tanam 4,093 juta hektar. Volume penyaluran benih itu mencapai 53,04 persen dari target. Keempat, luas tanaman padi yang terserang bencana dan hama penyakit berkurang.

Luasan tanaman padi yang terserang organisme pengganggu tanaman (OPT) utama pada musim kemarau April-Mei 2008 memang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata lima tahunan. Namun, pada kenyataannya luas tanaman yang puso lebih kecil karena keberhasilan penanaman kembali (replanting).

Luas tanaman padi yang kekeringan dan kebanjiran Januari- April 2008 hanya 189.704 ha, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama 2007 sebanyak 406.834 ha.

Sebuah ironi

Menanggapi kemungkinan pemerintah mengimpor beras, Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo mengatakan, mengimpor beras ketika harga beras di pasar dunia sangat mahal merupakan ironi. "Mengapa Bulog tidak membeli beras produksi dalam negeri saja dengan harga mengikuti harga pasar," katanya.

Menurut Siswono, sikap Menteri Pertanian yang berubah pikiran soal kebijakan impor beras menunjukkan betapa hebatnya lobi-lobi bisnis pedagang beras.

Pendapat senada diungkapkan Ketua Umum HKTI Prabowo Subianto. Menurut Prabowo, belum lama pemerintah mengumumkan produksi gabah sekitar 57 juta ton atau naik 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. "Namun, tiba-tiba muncul pernyataan pemerintah soal kemungkinan impor. Kalau cukup, mengapa impor?" ujar Prabowo dalam siaran persnya.

Sementara itu, Bulog kesulitan mendapatkan beras sesuai target karena pembelian berasnya dibatasi harga pembelian pemerintah (HPP), yakni Rp 4.300 per kilogram, sedangkan harga beras di pasaran saat ini mencapai Rp 5.200 per kg.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono menepis pernyataan bahwa dirinya mengatakan, impor beras harus tetap dilakukan meskipun dalam volume kecil.

Ia menegaskan, tidak pernah secara spesifik menyebut beras dalam pernyataannya soal importasi. Namun, kebijakan impor dalam volume kecil yang diungkapkannya bersifat umum, tidak spesifik komoditas beras.

Yang dimaksud impor beras dalam volume kecil, kata Anton, adalah beras spesifik, seperti menir atau beras untuk konsumsi penderita diabetes.

Secara terpisah, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi menegaskan bahwa kegiatan ekspor dan impor beras perlu dipandang sebagai sesuatu yang wajar.

Persoalan kritis dalam kegiatan ekspor dan impor beras, menurut Bayu, terletak pada jenis beras yang diperdagangkan. Indonesia memerlukan impor jenis beras untuk kegunaan khusus yang tidak diproduksi di dalam negeri. (MAS/DAY)

Link
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/11/00461731/bulog.pastikan.mampu.jaga.pangan
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

Gizi Buruk Tidak Selalu Tidak Mampu

Oleh Dr. Widodo Judarwanto, SpA
Picky Eaters Clinic Jakarta

Data terkini dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana DKI Jakarta menyebutkan, hingga Agustus 2006 tercatat 9.253 anak balita yang berat badannya di bawah garis merah atau gizi buruk (Kompas 5 Agustus 2006). Bagi sebagian orang mungkin ini adalah berita yang menghebohkan.

Topik hangat ini dianggap sebagai sumber berita eksklusif bagi media masa. Bagi pelaku politik dapat dijadikan alat komoditas untuk kepentingan tertentu. Bagaimana tidak, di kota metropolitan Jakarta yang secara fisik tampak glamour, mewah dan modern masih menyisakan sisi yang memprihatinkan. Benarkah gizi buruk yang terjadi di Jakarta karena kemiskinan?

Sebuah stasiun televisi swasta pernah menyiarkan topik penderita gizi buruk akibat kemiskinan. Anehnya, berita gambar yang muncul adalah anak yang sangat kurus sedang digendong si ibu yang gemuk, sehat dan bersih dengan baju yang cukup necis. Di latar belakang tampak rumah tinggalnya televisi berwarna 21 inchi dengan perangkat VCD dan dinding rumah tembok yang bagus.

Sebenarnya berita dan "informasi ganjil" tersebut tidak terlalu mengejutkan dan merupakan hal yang wajar. Penulis yang setiap hari praktek di Rumah Sakit swasta di kawasan Menteng Jakarta Pusat dengan mayoritas pengunjungnya ekonomi menengah atas kadang juga menjumpai kasus gizi buruk.

Penyebab utama kasus gizi buruk di kota metropolitan tampaknya bukan karena masalah ekonomi atau kurang pengetahuan. Kasus gizi buruk di kota besar biasanya didominasi oleh malnutrisi sekunder. Malnutrisi sekunder adalah gangguan peningkatan berat badan atau gagal tumbuh (failure to thrive) yang disebabkan karena karena adanya gangguan di sistem tubuh anak. Sedangkan penyebab gizi buruk di daerah pedesaan atau daerah miskin lainnya sering disebut malnutrisi primer, yang disebabkan karena masalah ekonomi dan rendahnya pengetahuan.

MALNUTRISI PRIMER
Gejala klinis malnutrisi primer sangat bervariasi tergantung derajat dan lamanya kekurangan energi dan protein, umur penderita dan adanya gejala kekurangan vitamin dan mineral lainnya. Kasus tersebut sering dijumpai pada anak usia 9 bulan hingga 5 tahun, meskipun dapat dijumpai pada anak lebih besar. Pertumbuhan yang terganggu dapat dilihat dari kenaikkan berat badan terhenti atau menurun, ukuran lengan atas menurun, pertumbuhan tulang (maturasi) terlambat, perbandingan berat terhadap tinggi menurun.

Gejala dan tanda klinis yang tampak adalah anemia ringan, aktifitas berkurang, kadang di dapatkan gangguan kulit dan rambut. Kasus marasmik atau malnutrisi berat karena kurang karbohidrat disertai tangan dan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan patah, gangguan kulit. Pada umumnya penderita tampak lemah sering digendong, rewel dan banyak menangis. Pada stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.


Marasmik adalah bentuk malnutrisi primer karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah berwarna kemerahan dan terjadi pembesaran hati. Anak tampak sering rewel, cengeng dan banyak menangis. Pada stadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.

Pada penderita malnutrisi primer dapat mempengaruhi metabolisme di otak sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf. Pertumbuhan sel-sel otak baru atau mielinasi sel otak juga terganggu yang berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kecerdasan anak. Mortalitas atau kejadian kematian dapat terjadi pada penderita malnutri primer yang berat. Kematian mendadak dapat terjadi karena gangguan otot jantung.

MALNUTRISI SEKUNDER
Malnutrisi sekunder adalah gangguan pencapaian kenaikkan berat badan yang bukan disebabkan penyimpangan pemberian asupan gizi pada anak Tetapi karena adanya gangguan pada fungsi dan sistem tubuh yang mengakibatkan gagal tumbuh. Gangguan sejak lahir yang terjadi pada sistem saluran cerna, gangguan metabolisme, gangguan kromosom atau kelainan bawaan jantung, ginjal dan lain-lain.

Data penderita gagal tumbuh di Indonesia belum ada, di negara maju kasusnya terjadi sekitar 1-5%. Artinya bila di Indonesia terdapat sekitar 30 juta anak, maka diduga terdapat 300.000 - 500.000 anak yang kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Bila di Jakarta terdapat 1 juta anak maka sekitar 10.000 - 50.000 anak mengalami kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Kasus tersebut bila tidak ditangani dengan baik akan jatuh dalam keadaan gizi buruk.

Gambaran yang sering terjadi pada gangguan ini adalah adanya kesulitan makan atau gangguan penyerapan makanan yang berlangsung lama. Tampilan klinis gangguan saluran cerna yang harus dicermati adalah gangguan Buang Air Besar (sulit atau sering BAB), BAB berwarna hitam atau hijau tua, sering nyeri perut, sering muntah, mulut berbau, lidah sering putih atau kotor.

Manifestasi lain yang sering menyertai adalah gigi berwarna kuning, hitam dan rusak disertai kulit kering dan sangat sensitif. Berbeda pada malnutrisi primer, pada malnutrisi sekunder tampak anak sangat lincah, tidak bisa diam atau sangat aktif bergerak. Tampilan berbeda lainnya, penderita malnutrisi sekunder justru tampak lebih cerdas, tidak ada gangguan pertumbuhan rambut dan wajah atau kulit muka tampak segar.

Ketua Tim Adhoc Program Revitalisasi Posyandu Rini Sutiyoso mengatakan bahwa penderita gizi buruk di Jakarta sering diikuti penyakit penyerta TBC (kompas, 5 Oktober 2006). Tetapi fenomena tersebut harus lebih dicermati. Karena, pada kasus malnutrisi sekunder sering terjadi overdiagnosis tuberkulosis (TB). Overdiagnosis adalah diagnosis TB yang diberikan terlalu berlebihan padahal belum tentu mengalami infeksi TB. Penelitian yang dilakukan penulis didapatkan overdiagnosis pada 42 (22%) anak dari 210 anak dengan gangguan kesulitan makan disertai gagal tumbuh yang berobat jalan di Picky Eaters Clinic Jakarta (Klinik Khusus Kesulitan Makan). Laporan Badan Koordinasi Keluarga Berencana DKI Jakarta, bahwa kasus TB sering menyertai.

Overdiagnosis tersebut terjadi karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang ada. Hal lain adalah kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru. Sebaiknya bila diagnosis TB meragukan dilakukan konsultasi ke dokter ahli paru anak.

PENANGANAN BERBEDA
Bila kasus gizi buruk yang terjadi karena malnutrisi sekunder maka strategi penanganannya berbeda. Secara medis penanganan kasus malnutrisi sekunder lebih kompleks dan rumit. Penanganannya harus melibatkan beberapa disiplin ilmu kedokteran anak seperti bidang gastroenterologi, endokrin, metabolik, alergi-imunologi, tumbuh kembang dan lainnya.

Masukan data yang didapat harus cermat dan lengkap untuk menentukan apakah malnutrisi primer atau sekunder. Data yang ada harus didukung status medis, status ekonomi, pendidikan dan sosial yang akurat. Contohnya, pada keluarga tukang ojek di dapatkan satu anak gizi buruk tapi terdapat satu adiknya yang status gizinya bagus jangan langsung divonis kurang gizi akibat kemiskinan.

Gizi buruk memang merupakan masalah klasik bangsa ini sejak dulu. Tanpa data dan informasi yang cermat dan lengkap sebaiknya jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa adanya gizi buruk identik dengan kemiskinan. Karena, gizi buruk bukan saja disebabkan karena masalah ekonomi atau kurangnya pengetahuan dan pendidikan. **

http://avianflutidakseindahnamanya.blogspot.com/2006/10/gizi-buruk-tidak-selalu-tidak%20mampu. html
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

BBM Naik, Gizi Buruk Meningkat

ANGKA kasus kurang gizi dan gizi buruk dikhawatirkan akan meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Untuk itu, pemberian bantuan langsung tunai atau BLT perlu disertai dengan sosialisasi pengetahuan gizi kepada penerima bantuan agar dana bantuan dari pemerintah itu tepat sasaran dan memberi manfaat yang sangat bermakna bagi perbaikan gizi masyarakat.

Faktor utama yang langsung mempengaruhi status gizi masyarakat adalah tingkat konsumsi pangan dan status kesehatan. Dengan naiknya harga BBM, maka harga produk pangan akan naik sehingga bisa menurunkan tingkat konsumsi pangan di kalangan masyarakat, kata Martianto Drajat dari Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Senin (3/6/2008), saat dihubungi dari Jakarta.

Terkait hal itu, pemerintah harus segera mengantisipasi masalah tersebut dengan meningkatkan sosialisasi mengenai pola pengasuhan pada anak. Di tengah krisis pangan yang diperparah oleh kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok, para orang tua harus memprioritaskan kebutuhan gizi pada anak mereka terutama yang masih berusia di bawah lima tahun.

Selain itu, pemerintah diharapkan tidak sekadar memberikan bantuan langsung tunai pada masyarakat miskin tanpa disertai pendampingan bagaimana pengelolaan keuangan keluarga yang tepat. Tanpa adanya sosialisasi mengenai pengetahuan gizi keluarga, bantuan itu tidak akan memberi dampak secara bermakna bagi perbaikan gizi masyarakat miskin.

Direktur Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan Ina Hernawati menyatakan, Depkes secara rutin telah melakukan berbagai upaya perbaikan gizi masyarakat. Salah satunya, dengan memberikan makanan pendamping ASI bagi anak-anak balita dalam kegiatan posyandu di seluruh provinsi di Tanah Air. "Kami juga mengimbau agar masyarakat melakukan diversifikasi pangan sehingga tidak lagi tergantung pada beras sebagai sumber makanan pokok, " ujarnya.

Untuk menanggulangi masalah gizi kurang, dalam jangka pendek pemerintah melakukan perawatan kasus di rumah sakit sesuai prosedur yakni mengatasi keadaan kritis, mengobati penyebab penyakit dan menaikkan berat badan. Pada fase pemulihan, dilakukan upaya peningkatan status gizi dari gizi buruk jadi gizi baik melalui pemberian makanan bergizi dan waktu kontrol ulang di puskesmas atau RS.

Secara periodik, kader melakukan surveilans ulang kasus balita gizi kurang serta pemberian makanan pendamping ASI bagi balita usia enam sampai 24 bulan dari keluarga miskin. Pemerintah juga melakukan sosialisasi perbaikan pola asuh pemeliharaan balita seperti promosi pemberian ASI secara eksklusif sampai bayi umur enam bulan, penimbangan berat badan balita secara teratur di posyandu untuk deteksi dan rujukan dini kasus gizi kurang.

Berdasarkan data Depkes, jumlah kasus gizi kurang dan gizi buruk menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2004, jumlah balita gizi kurang dan gizi buruk sebanyak 5,1 juta jiwa. Kemudian pada tahun 2006, jumlah balita gizi kurang dan bur uk turun jadi 4,28 juta anak, dan 944.246 orang di antaranya balita risiko gizi buruk.

Pada tahun 2007, angka kasus balita gizi kurang dan buruk turun lagi jadi 4,13 juta anak, dan 755.397 orang di antaranya tergolong balita risiko gizi buruk. Sedangkan h asil surveilans gizi menunjukkan, kasus gizi buruk yang ditemukan dan ditangani 76.178 (tahun 2005), kemudian turun jadi 50.106 penderita (2006), dan tahun 2007 ada 39.080 orang. *

Link http://www.kompas.co.id/

Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar