Diare Renggut Tiga Nyawa di Kupang
Posted On 15 Januari 2009 at di 00.37.00 by JawapogoKUPANG, PK--Dalam rentang waktu dua hari terakhir, tiga pasien diare (muntah berak) meninggal dunia di RSU Prof. Dr. WZ Johannes-Kupang. Satu korban meninggal, Kamis (8/1/2009), sedangkan dua korban lainnya meninggal, Jumat (9/1/2009).
Korban yang meninggal hari Kamis atas nama Monika Mantero, Warga Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Dua korban yang meninggal kemarin pagi, masing- masing Sonny Haning (1,8 tahun), warga RT 20/RT 05 Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, dan Defita M. Kefi (1,1 tahun), warga Kelurahan Pasir Panjang, Kota Kupang.
Menurut penjelasan Kepala Instalasi Pemulazaran Jenazah (IPJ), RSU Prof Dr. WZ Johannes-Kupang, Yoseph Leu Oemanas, di ruang kerjanya, Jumat (9/1/2009), jenazah Sonny Haning dan Defita M Kefi masuk ke ruang IPJ kemarin pagi sekitar pukul 08.00 Wita.
Sementara ayah Sonny, Yacob Haning, ditemui di ruang IPJ, kemarin, menjelaskan, anaknya dirawat di Ruang Kenanga Kelas Dua, Rabu (7/1/2009). Anaknya meninggal akibat komplikasi penyakit diare dan gizi buruk.
Seperti Sonny, korban lainnya, Defita M. Kefi (1,1 tahun), juga meninggal di Ruang ICU, Jumat (9/1/2008) pagi, karena komplikasi diare dan gizi buruk. Defita dirawat sejak hari Kamis (8/1/2009).
Dalam catatan Pos Kupang, memasuki tahun 2009 ini, diare dan demam berdarah menyerang banyak warga di sejumlah daerah. RSU Prof. Dr. WZ Johannes menerima banyak pasien diare dan demam berdarah.
Meningkat
Kepala Puskesmas Rawat Inap Kelurahan Sikumana-Kota Kupang, dr. Theresia Rallo, ditemui di ruang kerjanya, Jumat (9/1/2009), menjelaskan, selama pekan pertama Januari 2009, pasien diare meningkat. Dalam sepekan terakhir, Puskesmas Sikumana telah merawat 17 pasien diare dan satu orang pasien gizi buruk.
Dari 17 pasien diare tersebut, lima orang di antaranya menjalani rawat inap dan satu pasien lainnya, atas nama Alfredo Nabunome (11 bulan), hingga kemarin masih menjalani perawatan. Sedangkan sebelas pasien lainnya, hanya menjalani rawat jalan atau rawat di rumah.
Rallo menambahkan, pasien diare yang menjalani rawat inap ada yang mengalami dehidrasi berat. Namun setelah dirawat, kondisi tubuhnya membaik dan mereka telah kembali ke rumahnya.
Emerensiana Hani, orangtua Alfredo Nabunome, warga RT 2/RW 3, Kelurahan Belo, di temui di Ruang Perawatan Anak Puskesmas Sikumana, kemarin, menjelaskan, anaknya masuk dan dirawat di puskesmas, Senin (5/1/2009) lalu. "Kami membawa Alfredo ke puskesmas karena sebelumnya pada hari Minggu (4/1/2008), Alferedo terus muntah dan berak. Kondisi badannya sangat lemah karena setelah diberi ASI beberapa saat kemudian dia terus muntah-muntah.
Rallo menambahkan, pihaknya juga menerima satu pasien gizi buruk dengan komplikasi diare atas nama Apriance Mause (3 tahun). "Mause baru hari ini (kemarin--Red) dibawa orangtuanya diperiksa di puskesmas. Dari hasil pemeriksaan, Mause menderita gizi buruk dengan komplikasi diare. Berat badannya hanya delapan kilogram, sementara usianya telah tiga tahun. Artinya antara berat badan dan umur tidak sebanding. Pasien ini langsung dirujuk ke RSU-Johannes," kata Rallo.
Emeritus Mause, orangtua Apriance Mause, warga Desa Nauma, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, ditemui terpisah menjelaskan, dirinya bersama istrinya, Ina Mause, dan anaknya, Apriance, tiba di Kupang sejak Oktober 2008 lalu. "Kami ke Kupang karena selama di Alor, Apriance mengalami sakit dan kondisi tubuhnya semakin kurus. Selama di Kupang, baru hari ini kami membawa Apriance ke Puskesmas. Kami tinggal dengan salah satu keluarga, di RT 26/RW 07, Kelurahan Sikumana," kata Mause.
Siapkan Rp 750 juta
Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menyiapkan dana dari APBD senilai Rp 750 juta untuk penanggulangan gizi buruk di Sumba Timur. Dana itu akan dipakai untuk pemberian makanan tambahan melalui posyandu-posyandu. Sementara itu, jumlah penderita gizi buruk di Sumba Timur sampai akhir tahun 2008 sebanyak 161 orang.
Hal tersebut disampaikan Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (8/1/2009). Gidion mengaku, dari hasil deteksi melalui posyandu masih ditemukan ada balita gizi buruk. Namun dari segi jumlah trendnya menurun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. "Data penderita gizi buruk ini ditemukan saat penimbangan di posyandu-posyandu," kata Gidion.
Gidion mengungkapkan, setiap tahun pemerintah daerah selalu menyiapkan dana untuk pemberian makanan tambahan di posyandu-posyandu. Karena itu, kata Gidion, jika ada masyarakat yang mengaku tidak pernah lagi mendapat makanan tambahan di posyandu, maka ada yang tidak beres di tingkat posyandu. Karena it, Gidion mengatakan akan melakukan evaluasi terhadap kinerja posyandu.
Dikatakan Gidion, dari pemantauan terhadap perkembangan penanggulangan gizi buruk selama ini memang dilakukan melalui posyandu, yakni melalui penimbangan. "Dari hasil penimbangan bayi dan anak di posyandu itu kita bisa mengetahui berapa anak yang mengalami kekurangan energi protein (KEP) dan berapa anak yang kekurangan energi kronis (KEK). Data tersebut kita padukan dengan data luas tanam, puso, dan luas panen, selanjutnya dipadukan dengan data rumah tangga miskin (RTM) dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data yang ada kemudian diolah oleh tim sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG) dan diserahkan ke bupati," kata Gidion.
Data dari SKPG ini, katanya, akan dipakai sebagai acuan bagi pemerintah untuk mengambil langkah preventif dalam penanggulangan gizi buruk dan gizi kurang di Sumba Timur. "Data gizi buruk pada Januari 2009 ini kita masih data. Dari data sementara yang masuk ke saya, dua orang meninggal dunia, dua orang masih dirawat di RSU Imanuel dan RSUD Umbu Rara Mega, masing-masing Agra Setiawan usia sembilan bulan berat empat kilo gram asal Kambaniru, Kecamatan Kambera dan Opi Tawurmai asal Mandas, usia 2,1 tahun berat delapan kilogram. (den/dea)
Lanjut...
Pemkab TTU Bantu 60 Traktor Tangan
Posted On at di 00.35.00 by JawapogoKEFAMENANU, PK -- Menurut rencana dalam tahun 2009 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Timor Tengah Utara (TTU) akan membantu 60 unit traktor tangan (hand tractor) untuk kelompok tani. Sebelumnya tahun 2008 lalu, 42 unit hand tractor telah diserahkan kepada kelompok tani lainnya.
Bantuan ini dalam rangka pelaksanaan program pengembangan pertanian sebagai pilar utama penggerak pembangunan dengan meninggalkan pola manajemen ketahanan pangan dan beralih kepada pola manajemen kedaulatan pangan.
Pembangunan di TTU menjadikan program pengembangan pertanian sebagai pilar utama penggerak pembangunan sektor lain dengan semboyan: pertanian maju menjadikan pendidikan masyarakat berkualitas, kesehatan masyarakat terjamin, koperasi dan UKM maju dan lingkungan hidup lestari. Dengan semboyan ini, kita ingin berjuang bersama agar perlahan-lahan meninggalkan pola manajemen ketahanan pangan dan beralih ke pola manajemen kedaulatan pangan," jelas Bupati Manek, saat membuka Rapat Kerja Camat di aula Serbaguna Biinmafo, Kamis (9/1/2008).
Dikatakannya, pemerintah daerah setempat sedang mengarahkan perhatian dan tenaga pada upaya kedaulatan pangan. Karena sejak kemerdekaan 63 tahun lalu, bangsa Indonesia hanya berdaulat secara politik akan tetapi belum berdaulat dalam aspek pangan. "Artinya untuk makan kita masih minta-minta yang dalam bahasa Dawan, kurang lebih berarti thaem uem taufesen, mai ha tahat fe tanokan," ucap Gabriel Manek.
Karena itu, melalui pola manajemen kedaulatan pangan, Pemkab TTU hendak berusaha untuk sungguh-sungguh melakukan revitalisasi model pertanian agar secara perlahan terbebas dari belenggu beras miskin, beras OPK serta beras impor lainnya.
"Melalui manajemen kedaulatan pangan, kita berusaha menjadikan upaya diversifikasi pangan sumber karbohidrat non beras sebagai gerakan lokal berkelanjutan dengan lebih bertumpu pada kekuatan sendiri," katanya.
Untuk mendukung ini, lanjutnya, dalam tahun anggaran 2009, Pemkab TTU akan memberikan bantuan 60 unit hand tractor kepada kelompok tani di TTU. "Tahun lalu kita sudah bantu 42 unit traktor tangan. Tahun ini pemerintah akan bantu lagi 60 unit traktor tangan," janjinya.
Dalam bagian lain arahannya, Gabriel anek minta bantuan para anggota Tim Penggerak PKK untuk bersama para bidan desa menggerakkan para ibu hamil dan ibu menyusui untuk memeriksakan diri serta menimbang bayinya ke posyandu.
"Kesadaran ini harus ditumbuhkan untuk menekan angka kasus gizi buruk di TTU. Kampanye pangan sehat dan bergizi harus dimulai oleh anggota Tim Penggerak PKK. Kerjasama ini sangat penting dan strategis," pintanya. (ade)
Pos Kupang 10 Januari 2009 halaman 15
Lanjut...
Satu Lagi Pasien Diare Tewas
Posted On at di 00.34.00 by JawapogoKUPANG,PK---Kristiawan Sine (1 tahun), salah seorang pasien diare, Sabtu (10/1/2009), meninggal dunia, sekitar pukul 04.00 Wita, di RSUD Prof. Dr. WZ Johannes-Kupang. Sine, warga RT 8/RW 3, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, adalah korban tewas keempat dalam tiga hari terakhir akibat diare di Kota Kupang.
Kepala Ruangan Kenanga Kelas II dan Kelas III Anak RSUD Prof. Dr. WZ Johannes, Eka Manafesy, saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (10/1/2009), mengatakan, Sine menjalani perawatan sejak Kamis (8/1/2009) lalu. Sine meninggal karena komplikasi diare dan gizi buruk. Tiga korban tewas sebelumnya adalah Monika Mantero, Sonny Haning dan Defita M. Kefi.
Ditanya tentang jumlah pasien anak penderita diare yang dirawat, Manafessy mengatakan, hingga kemarin jumlah pasien diare yang dirawat sebanyak 30 orang. Sepuluh pasien di antaranya komplikasi diare dan gizi buruk, sedangkan 20 pasien lainnya terserang diare tanpa komplikasi.
Kepala Ruangan Mawar Kelas I Anak, Irena Bilaut, ditemui terpisah menjelaskan, hingga kemarin, hanya satu orang pasien diare yang dirawat di Ruangan Mawar.
Dari pengamatan Pos Kupang di RSU Johannes, saban hari selalu ada pasien diare yang datang berobat. Ada juga pasien lama yang belum sembuh.
Juliberta Ana Saores, orangtua Richard Parera (1 tahun), pasien komplikasi diare dan gizi buruk, mengatakan, Richard dirawat sejak Selasa (30/12/2008) lalu. Warga RT 10 RW 6, Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang ini kondisinya sangat memrihatinkan. Kulit tangan dan kakinya terlihat mengkerut. Sementara kedua matanya tampak cekung.
Seorang penderita diare lainnya, Rut Sau ( 2 bulan), warga Asam III, Desa Naibonat, Kabupaten Kupang juga menjalani perawatan. Menurut ibunya, Marni Tefnai, Rut dirawat sejak Sabtu (3/1/2009). "Kami membawa dia ke rumah sakit ini karena kondisi tubuhnya terus memburuk. Dia terus muntah-muntah dan berak setelah diberi makan," kata Ny. Marni. (den)
Tips Mencegah Diare
- Perhatikan kebersihan makanan
- Biasakan minum air yang sudah dimasak
- Cuci tangan sebelum makan
- Jaga kebersihan lingkungan
- Selalu siapkan oralit
- Siapkan juga minuman pencegah diare, seperti jus jambu
- Hubungi dokter/petugas kesehatan terdekat apabila anak/anggota keluarga Anda mengalami gejala diare seperti muntah-muntah, dan buang air besar encer/cair secara terus menerus.
- Segera bawa ke rumah sakit apabila penyakit yang diderita tidak mengalami perubahan setelah dirawat.
Uta Tabha, Juara III Nasional untuk Pangan Lokal
Posted On 16 Desember 2008 at di 00.51.00 by JawapogoKUPANG, PK--Menu lokal masyarakat Kabupaten Ngada 'Uta Tabha' meraih juara III nasional Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman yang diselenggarakan Badan Bimas Ketahanan Pangan Pusat di Bandung, 3 Desember 2008. Lomba ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia tanggal 5 Desember. Pembuatan menu uta tabha yang diperagakan oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngada ini meraih juara tiga setelah Kalimantan Barat dan Jawa Tengah berturut-turut juara I dan II.
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) III, Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngada, Maria Veronika Manda, kepada Pos Kupang yang menghubungi handphone-nya, Sabtu (13/12/2008), mengatakan, dirinya tidak menyangka menu ini bisa meraih juara III dari 33 propinsi yang ikut dalam perlombaan tersebut.
Menurutnya, uta tabha dari NTT dinilai memenuhi kriteria sebagai makanan lokal yang memiliki nilai gizi dan seimbang.
Dijelaskan, menu yang dilombakan ini sudah dimodifikasi sehingga tidak mendapat pendobelan kadar-kadar gizinya. Kalau, uta tabha asli biasanya ditambah dengan daun pepaya atau daun ubi-ubian, namun dalam perlombaan ini dimodifikasi sehingga cita rasanya lebih nikmat dan kandungan gizinya bermanfaat.
Menurutnya, bersama temannya Maria Teresia Kadu, keduanya memodifikasi menu yang berbahan lokal jagung dan jewawut ini menjadi makanan yang lezat dan memiliki kandungan gizi yang beragam, seimbang dan aman untuk dikonsumsi oleh siapapun.
Istri dari Dominikus Begu ini mengatakan, mengisahkan keduanya diutus oleh Badan Bimas Ketahanan Pangan Propinsi NTT mengikuti lomba tingkat nasional, karena berhasil meraih juara pertama di tingkat propinsi. Baginya, tujuan dari lomba ini sebenarnya bukan juara, tetapi bagaimana mensosialisasikan kepada masyarakat untuk memanfaatkan pangan lokal yang ada di lingkungan sekitar. Hal ini dilakukan agar meminimalisir masyarakat dari ketergantungan pada pangan beras.
Ibu empat anak ini mengatakan, selama ini banyak masyarakat tidak bisa memanfaatkan pangan lokal yang memiliki nilai gizi yang tinggi karena keterbatasan pengetahuan untuk mengelolah. Oleh karena itu, sejalan dengan program Gubernur NTT "Anggur Merah', yang salah satunya memanfaatkan makanan lokal diharapkan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat NTT. (nia)
Lanjut...
Pangan Lokal dan Perubahan Perilaku
Posted On 15 Desember 2008 at di 22.09.00 by JawapogoOleh Gerady Tukan
Magister Biokimia, Dosen FMIPA Unwira Kupang
"AYO kawan kita bersama, menanam jagung di kebun kita...." Penggalan lagu ciptaan Ibu Sud ini terkenal merasuk kalbu seluruh rakyat Indonesia, terutama di kalangan pelajar SD, di era tahun 1970-1980-an. Saya teringat, ketika masih sebagai siswa SD, sekolah kami memiliki satu lahan kebun. Setiap hari Sabtu, setelah upacara bendera pagi, kami beramai-ramai menuju kebun sekolah sambil menyanyikan lagu itu, dan juga lagu mars ONM dan ONH. Maklum, saat itu NTT dipimpin oleh Gubernur Ben Mboi, yang gencar dengan program Operasi Nusa Makmur (ONM) dan Operasi Nusa Hijau (ONH), dan menekankan berkebun.
Menanam jagung, menanam ubi kayu, makan jagung, makan ubi kayu merupakan hal yang kini tidak familiar di generasi kita. Sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk rakyat NTT, bahkan menganggap bahan-bahan itu sebagai makanan orang desa, makanan rakyat kecil, makanan rakyat kelas bawah. Jagung dan ubi kayu juga kerap disejajarkan dengan kemiskinan atau kelaparan dan rawan pangan.
Stigma yang ada saat ini mengatakan, jagung dan ubi kayu adalah gambaran kemelaratan, gambaran kemiskinan. Masyarakat saat ini lidahnya sudah terbiasa dengan makan nasi dari beras padi. Ketersediaan beras padi pun dapat diperoleh relatif gampang, baik dibeli di toko-toko, atau diperoleh di kantor desa, dalam statusnya sebagai beras raskin, beras padat karya, beras bantuan sosial, beras tanggap darurat, beras 'serangan fajar', dan berbagai atribut lainnya.
Lalu mengapa paket Fren begitu berani mau menyeret masyarakat NTT untuk kembali menggauli jagung dan ubi kayu dalam bingkai pangan lokal dalam era yang serba maju ini?
Banyak pendapat yang telah kita baca, mengemukakan bahwa paket Fren mengangkat program kembali ke pangan lokal dengan lebih mengedepankan pengembangan jagung sebagai jalan keluar penguatan ekonomi rakyat NTT. Paket Fren dinilai berani mengangkat program ini dan terkesan mau melawan arus perkembangan zaman saat ini, karena berangkat dari kultur asli rakyat dan kondisi daerah NTT. Bahwa rakyat NTT memiliki tradisi agraris dengan kehandalan pengetahuan berladang.
Daerah NTT memiliki iklim tropis panjang, maka tanaman jagung dan penghasil pangan lokal lainnya dipandang lebih pas untuk menjadi penyanggah ketahanan pangan rakyat NTT. Dengan modal dasar kehandalan bertani ladang serta kultur agraris, maka diharapkan pula agar komoditi jagung dan ubi kayu NTT tidak hanya sebatas ketahanan pangan lokal saja, akan tetapi untuk kepentingan komoditas ekspor.
Namun fakta di lapangan dewasa ini agak berbeda. Bertanam jagung dan ubi kayu, sama dengan berkebun. Tradisi berkebun bagi rakyat NTT saat ini hanya sedang dipertahankan oleh generasi tua untuk mempertahankan hidup yang tersisa. Generasi muda sekarang sudah tidak berminat untuk berkebun. Mereka kini telah dihadapkan oleh berbagai tawaran pilihan hidup lain yang relatif jauh lebih mudah dan menguntungkan, ketimbang banting tulang berjemur panas di ladang, direndam hujan, membuang waktu di ladang selama tiga bulan penuh hanya untuk sekali panen, yang hasilnya juga belum tentu cukup untuk makan sendiri, apalagi dijadikan uang untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Dalam sejarah NTT, belum terdengar ada satu keluarga, atau satu desa, atau satu kecamatan, atau satu kabupaten yang mashur karena jagung. Yang kita tahu adalah: Rote/Sabu = gula air. Ende = ubi kayu. Alor = kenari. Sumba = kuda. Flores Timur = ikan sembe. Sikka = kopra. Manggarai = kopi. Ngada = padi. TTS = cendana, jeruk, apel, sapi. TTU = cendana, sapi. Belu = jati, sapi. Lembata = ikan paus, siput.
Sedangkan jagung, justru menjadi berita pilu bagi NTT setiap tahun seperti; gagal panen, rawan pangan, terancam kelaparan. Sebabnya adalah karena jagung mati kekeringan lantaran hujan yang tidak cukup. Setiap memulai musim tanam, rakyat NTT mulai diliputi kecemasan dan ketidaktentraman, lantaran curah hujan yang serba teka teki, tidak dapat dipastikan. Kecemasan akan gagal panen menjadi hantu wajib setiap tahun. Mengapa kita tidak perkuat dan pertajam maskot-maskot tiap daerah tersebut hingga dapat menguasai pasar dunia?
Perlu sosialisasi yang jujur
Paket Fren mungkin telah memiliki referensi yang kuat tentang peluang besar keberhasilan bertanam jagung di NTT untuk memajukan daerah ini. Di sini, paket Fren dan kabinetnya harus secara jujur mensosialisasikan kepada masyarakat NTT, apa alasan paling mendasar untuk men-jagung-kan NTT. Apakah untuk menjadi penyanggah ketahanan pangan lokal NTT semata, ataukah ada ambisi lainnya? Atau apakah NTT mau digiring untuk meniru dan mengejar Propinsi Gorontalo yang sukses menguasai pasaran jagung ke China, Filipina, Malaysia dan beberapa negara ASEAN lainnya untuk bahan baku pakan ternak di negaranya?
Dua tujuan di atas tentu punya daya dan kiat motivasi yang berbeda. Ada cara motivasi bersifat persuasif, ada cara yang bersifat paksaan. Kita tentu berharap cara persuasiflah yang di digunakan secara cerdas dan memikat. Dengan begitu, masyarakat secara sadar dan penuh pengertian ingin mengubah hidup ke arah yang lebih baik dengan bertumpu pada jagung. Masyarakat akan menjadi sangat antusias dan bersemangat berkebun jagung. Mereka juga akan tegar menghadapi ancaman dan kendala, lalu kreatif mengelak dari kegagalan. Bahkan generasi muda pun akan bersemangat bertanam jagung.
Lain halnya dengan pendekatan yang bersifat pemaksaan yang hanya untuk mengejar suatu target tertentu, penghargaan atas kesuksesan dan prestise. Hal kedua inilah yang patut digelisahkan. Sebab, dapat berakibat eksploitasi terhadap berbagai hal di luar kewajaran, dan jauh di luar daya jangkau serta kesanggupan masyarakat kita. Lalu dengan itu, kita datangkan pihak luar untuk bergerak demi memenuhi target yang kita tetapkan, dan masyarakat kita terpaksa menempati posisi sebagai penonton. Bagaimana pun programnya, pelaksana lapangannya adalah masyarakat di desa-desa. Cara sosialisasi menjadi kunci utama kesuksesannya. Kita ambil contoh saja, cara sosialisasi rencana investasi pertambangan emas di Kabupaten Lembata yang lebih bernuansa pemaksaan kehendak sehingga menuai penolakan, menimbulkan perpecahan di antara rakyat, yang telah menguras pikiran dan perhatian rakyat serta Pemda Lembata selama sekitar 3 tahun ini. Masyarakat digiring untuk setuju investor masuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi emas karena merupakan salah satu program pemerintah daerah, dan terutama untuk menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Argumen dasarnya itu. Timbul penolakan dari masyarakat, karena seolah-olah tambang emaslah yang didewakan menjadi penyelamat hidup rakyat, lalu masyarakat menilai Pemda Lembata sempit wawasan dan tidak kreatif mengkondisikan dan mengajak masyarakat untuk melihat dan mengolah sumber daya alam lain terlebih dahulu. Masyarakat pun beralasan, untuk menaikkan PAD, dapat ditempuh melalui pengolahan sumber daya alam lain, asalkan pemerintah daerah fokus dan serius memfasilitasi pengolahannya, dan berada di pihak kepentingan dan keselamatan rakyat.
Dunia membutuhkan jagung
Jagung, meskipun zaman sekarang tidak populer bagi rakyat NTT, namun kini menjadi bahan pembicaraan dunia. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mencatat, pasokan jagung di pasar dunia saat ini semakin menipis, sementara kebutuhan akan jagung meningkat dan menjadi penting. Jagung yang semulanya hanya sebatas bahan baku pakan ternak, kini telah menjadi bahan baku pembuatan etanol untuk produksi Bahan Bakar Nabati (BBN), suatu bahan bakar alternatif yang mulai diminati.
Harga jagung di pasaran dunia cukup menjanjikan. Di tahun 2007, menembus level US$ 230 per ton (Rp 2.886,5/kg). Pasokan jagung untuk pasaran dunia didominasi oleh Amerika Serikat dengan produksi 40% dari total produksi dunia, disusul China 20%, Eropa 7% dan Brasil 6%. Namun kondisi ini belum sanggup memenuhi kebutuhan jagung dunia. Untuk tahun 2007, total produksi jagung sebesar 690 juta ton, sementara permintaan mencapai 740 juta ton.
Indonesia baru sanggup mengekspor jagung rata-rata 40 ribu sampai 150 ribu ton per tahun. Sebaliknya import malah mencapai 400 ribu sampai 1,8 juta ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Secara nasional, pemerintah berencana menggenjot produksi jagung dari 3,4 ton per hektar selama ini, menjadi 3,7 ton per hektar. Tahun 2010, Indonesia mematok target mengekspor jagung 2 juta ton, dan menjadi basis produksi jagung untuk ASEAN. Meskipun masih berupa rencana dan usaha-usaha menuju ke sana, namun Propinsi Gorontalo telah tampil ke permukaan menjadi penguasa ekspor jagung asal Indonesia ke beragai negara ASEAN.
Ubah perilaku
Setelah jatropha dan ubi kayu aldira menuai keributan, kini masyarakat NTT dihadapkan lagi dengan program tanam jagung untuk pangan lokal. Sukses tidaknya program pangan lokal NTT sangat terletak pada pundak masyarakat di desa-desa. Di sini, masyarakat harus dikondisikan untuk percaya bahwa jagung atau ubi kayu atau lainnya dapat mengubah nasib hidup mereka. Pemerintah perlu memberikan motivasi yang nyata dengan terlebih dahulu menunjukkan bagaimana mencintai pangan lokal. Wujudnya; snack harian di kantor-kantor pemerintah atau acara-acara pemerintahan, perlu dirubah dari kue tart menjadi singkong olahan, pisang olahan atau jagung olahan. Nasi tumpeng harus diganti dengan jagung bose atau putu. Dan lain-lainnya.
Dinas pertanian propinsi maupun kabupaten/kota, harus memiliki kebun (ladang dan sawah) sendiri untuk dijadikan contoh. Kebun conton itu harus memperlihatkan bagaimana menanam jagung dan ubi kayu pada kondisi hujan yang tidak menentu tetapi memberikan hasil melimpah. Memperlihatkan bagaimana menanam jagung dan ubi kayu di lahan (ladang) secara menetap alias tidak berpindah-pindah, tetapi memberikan hasil berlipat ganda dari tahun ke tahun. Dengan begitu, tidak terjadi perambahan hutan untuk dijadikan ladang jagung dan ubi kayu dengan alasan menyukseskan program kembali ke pangan lokal. Penanaman jagung dan ubi kayu sukses, kelestarian hutan pun tetap terjaga.
Dinas pertanian memperlihatkan dan mengajarkan bagaimana keberpihakan menggunakan pupuk bokhasi organik dan menghindari penggunaan pupuk kimia, agar kondisi tanah dapat terawat dan produksi pangan lokal bebas dari kecemasan akan cemaran kimiawi. Di sini dinas pertanian harus melepaskan diri dari cengkraman intervensi monopoli perdagangan pupuk kimia, dan harus serius membeli pupuk bokhasi organik yang diproduksi masyarakat. Dinas pertanian harus memperlihatkan bagaimana panenan jagung dikelola pemasarannya sehingga mendatangkan keuntungan yang besar. Dan berbagai hal baik lainnya yang harus diperlihatkan. Masyarakat pun harus didatangkan untuk melihat contoh-contoh pada kebun milik dinas pertanian itu.
Kinerja dan pengembangan kerja dinas pertanian perlu dibantu dengan kegiatan penelitian dan pengembangan yang intensif dan terpadu. Untuk itu, perlu dipikirkan agar NTT memiliki Dewan Riset Daerah (DRD) yang berperan melakukan penelitian dan pengembangan untuk pengolahan dan optimalisasi potensi daerah kita, termasuk pengembangan tanaman sumber pangan lokal. Pemerintah daerah perlu memikirkan hal ini dan mempunyai minat memanfaatkan dan memberdayakan ahli-ahli lokal. Sebaliknya, ahli-ahli lokal perlu membenah diri agar laku di mata pemerintah daerah dalam urusan penelitian dan pengembangan dimaksud.
Untuk dapat memiliki kebun jagung contoh, maka dinas pertanian dapat merekrut para sarjana pertanian dan sarjana berdisiplin ilmu terkait lainnya yang banyak menganggur di NTT, untuk dikontrakkan 'otaknya' mengelola kebun itu berikut pengolahan pasca panennya, sebagai salah satu unit bisnis milik dinas untuk kepentingan daerah. Dengan begitu, dinas pertanian harus menjadi panutan dan benteng pendapatan dan perkuatan perkonomian daerah.
Dinas itu harus menjadi tempat para petani bersandar, para petani datang dan mendapat penguatan, serta menjalin mitra dengan petani di desa secara bermakna. Bila perlu setiap hari bersama petani di kebun, menanam jagung sambil bernyayi 'ayo kawan kita bersama, menanam jagung di kebun kita....' *
Lanjut...