115,99 Ha Tanaman di Sumba Rusak Diterjang Banjir
Posted On 15 Januari 2009 at di 01.42.00 by JawapogoWAINGAPU, PK -- Banjir yang terjadi selama Desember 2008 menerjang dan merusak 115,99 ha tanaman pangan di Sumba Timur (Sumtim). Tanaman pangan yang rusak pada umumnya yang berada di dataran rendah atau di daerah aliran sungai (DAS).
Berdasarkan laporan dari kecamatan yang masuk ke Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumtim, tanaman pangan yang rusak tersebut terdiri dari tanaman jagung 43,56 ha, padi sawah 72,18 ha dan kacang tanah 0,25 ha. Selain padi, jagung dan kacang tanah, juga tercatat 230 rumpun pisang yang rusak akibat diterjang banjir.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumtim , Ir. Josis Djawa mengatakan itu, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/1/2009).
Dia mengatakan, data tersebut berdasarkan laporan dari kecamatan. Untuk memastikan kebenaran data tersebut, kata Josis, pihaknya sudah menurunkan tim ke lokasi-lokasi bencana.
Selain karena banjir, kata Josis, kerusakan tanaman pangan juga disebabkan oleh angin, dimana jagung 404 ha rusak dan padi ladang 71,5 ha rusak.
Josis mengatakan, pihaknya tidak memiliki cadangan benih untuk antisipasi kerusakan lahan akibat bencana alam tersebut. Seluruh stok benih, katanya, sudah habis didistribusikan ke petani. Satu-satunya harapan, lanjut Josis, bantuan benih dari Pemerintah Propinsi NTT.
"Kami sudah minta bantuan benih jagung ke pemerintah propinsi sebanyak 7,5 ton atau untuk lahan seluas 500 ha, namun belum ada jawaban resmi dari pemerintah propinsi," kata Josis.
Dia mengatakan, daerah-daerah yang dilanda bencana banjir sebagian besar adalah sawah tadah hujan seperti Lewa, Melolo. Sedangkan kacang tanah biasanya pada daerah aliran sungai (DAS). "Khusus untuk kacang tanah, musim tanam kali ini kami bantu bibit 10 ton," kata Josis.
Dikatakan Josis, jika bantuan dari pemerintah propinsi belum ada, pihaknya akan menyiasati dengan bantuan dari APBD II Sumtim. Meski demikian, Josis tetap berharap ada perhatian dari pemerintah propinsi untuk lahan-lahan tanaman pangan yang rusak. (dea)
Pos Kupang 8 Januari 2009 halaman 17
Lanjut...
Mungkinkah Petani Jagung di NTT Sejahtera?
Posted On at di 01.39.00 by JawapogoOleh Damianus Adar
Kandidat Doktor Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Lanjut...
HARAPAN yang tinggi akan peran pertanian dalam memecahkan berbagai masalah kritis yang dihadapi, terutama kemiskinan, apabila rekonstruksi dan restrukturisasi telah dilakukan, kembali dipertanyakan: mungkinkah para petani sejahtera? Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan harga pangan dunia serta krisis perekonomian dunia di tahun 2008 membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi para petani Indonesia.
Kenaikan harga BBM telah meningkatkan biaya produksi barang dan jasa dan menurunkan profit perusahaan (pertanian). Dengan demikian, para perusahaan mengurangi penggunaan input produksi. Hal ini berdampak pada menurunnya produksi barang dan jasa. Dampak selanjutnya adalah permintaan akan barang dan jasa melebihi produksi yang tersedia, sehingga harga-harga meningkat (inflasi) dan pengangguran bertambah. Kenaikan harga-harga ini menurunkan daya beli petani (purchasing power) dan menurunkan kesejahteraan (welfare) mereka.
Kesejahteraan merupakan variabel/indikator yang dipakai di hampir semua disiplin ilmu. Dalam ilmu ekonomi pertanian, variabel itu menempati posisi sentral. Keberhasilan atau kegagalan sesuatu, atau serangkaian, kebijakan tercermin dari arah perubahan indikator kesejahteraan yang digunakan: meningkat atau menurun. Baik-buruknya 'sistem' pengelolaan/pemanfaatan sumberdaya alam akan tercermin pada meningkat atau menurunnya indikator kesejahteraan rakyat.
Tinggi-rendahnya pendapatan petani, merata-timpangnya distribusi pendapatan petani vs non petani, lestari-terdegradasinya kondisi sumberdaya pertanian mengindikasikan berhasil-gagalnya kebijakan pembangunan pertanian yang telah kita terapkan. Dan, sampai batas tertentu, hal ini mencerminkan kuat-rapuhnya upaya politik yangg telah kita curahkan untuk menempatkan sektor pertanian dan para petani pada tingkatan yang lebih tinggi.
Tulisan ini tentang 'Mungkinkah petani jagung NTT sejahtera' merupakan suatu query terhadap para pembuat kebijakan pembangunan pertanian, penggiat politik pertanian -- jika memang betul-betul ada -- atau akademisi ekonomi pertanian dan politik pengelolaan sumberdaya alam. Secara teoritis, memperhatikan resource endowment yang kita miliki, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah "Ya, mungkin". Secara empiris/praksis, jawabannya barangkali adalah "Ya, mungkin, dan kesejahteraan petani harus kita perjuangkan sekuat tenaga, sekeras pemikiran dan garis kebijakan yang sudah dicanangkan."
Untuk dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan kesejahteraan petani di era fluktuasi perekonomian yang tidak menentu ini, maka pembangunan pertanian tetap merupakan hal yang penting. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya pembangunan pertanian: 1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam, 2) pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, 3) besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, 4) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, 5) perannya dalam penyediaan pangan masyarakat, dan 6) menjadi basis pertumbuhan di pedesaan.
Pembangunan pertanian masa lalu dan bahkan sampai saat ini mempunyai kelemahan antara lain terfokus pada usahatani (on farm), lemahnya dukungan kebijakan makro, serta pendekatannya yang sentralistik. Usaha pertanian sebagai suatu sistem (sistem agribisnis) dijalankan secara tersekat-sekat. Struktur sistem agribisnis yang tersekat-sekat ini dicirikan oleh: (1) subsistem agribisnis hulu (produksi dan perdagangan sarana produksi pertanian) dan subsistem agribisnis hilir (pengolahan hasil pertanian dan perdagangannya) dikuasai oleh pengusaha menengah dan besar yang bukan petani. Petani sepenuhnya hanya bergerak pada subsistem agribisnis penghasil produk primer; (2) Antar subsistem agribisnis tidak ada hubungan organisasi fungsional dan hanya diikat oleh hubungan pasar produk antara yang juga tidak sepenuhnya kompetitif; (3) Adanya asosiasi pengusaha yang bersifat horisontal dan cenderung bersifat sebagai cartel.
Berbagai asosiasi pengusaha ini dapat ditemui pada subsistem hulu maupun subsistem agribisnis hilir; (4) Agribsinis dilayani oleh paling sedikit lima departemen teknis (pertanian, kehutanan, perindustrian dan perdagangan, tenaga kerja dan transmigrasi, koperasi). Berbagai departemen ini tentunya memiliki visi ataupun mandat yang berlainan sehingga berbagai kebijakan yang ditujukan pada agribisnis belum tentu integratif dan selaras satu dengan lainnya dipandang dari sudut agribisnis sebagai satu sistem.
Kebijakan lain pada usaha pertanian masa lalu adalah tingkat perlindungan pemerintah, kebijakan investasi dan alokasi kredit berdasarkan sektor lebih banyak ditujukan pada sektor industri. Strategi makro pemerintah dalam proses industrialisasi yang secara operasional lebih berorientasi pada sektor industri yang berbasiskan padat modal yang kurang mengakar dan sektor pertanian hanya bertumpu pada sektor beras.
Kelemahan-kelemahan tersebut mengakibatkan usaha pertanian kita saat ini masih banyak didominasi oleh usaha dengan 1) skala kecil, 2) modal terbatas, 3) teknologi sederhana, 4) sangat dipengaruhi musim, 5) wilayah pasarnya lokal, 6) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), 7) akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah, 8) pasar komoditas pertanian sifatnya mono/oligopsoni sehingga terjadi eksploitasi harga pada petani.
Pembangunan pertanian di masa datang tidak hanya dihadapkan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada, namun dihadapkan pula pada tantangan untuk menghadapi perubahan tatanan politik yang mengarah pada era demokratisasi, yakni tuntutan otonomi daerah dan pemberdayaan petani. Di samping itu, dihadapkan pula pada globalisasi dunia. Oleh karena itu, pembangunan pertanian tidak saja dituntut untuk menghasilkan produk berdaya saing tinggi, namun juga mampu mengembangkan pertumbuhan daerah serta pemberdayaan masyarakat.
Salah satu kebijakan untuk mengembangkan pertumbuhan daerah NTT saat ini adalah pengembangan jagung. Mudah-mudahan kebijakan ini bukan merupakan politik pro pertanian (pro konglomerat), tetapi lebih merupakan kebijakan yang pro petani. Intervensi pemerintah ini merupakan suatu hal yang benar dan mulia dalam rangka menyelamatkan para petani NTT dari kerawanan pangan dan kemiskinan. Namun, perlu diingat bahwa implementasi dari kebijakan ini pasti mendapat banyak tantangan.
Sejalan dengan perubahan tatanan politik di Indonesia, dan di NTT khususnya yang mengarah pada globalisasi, maka keberhasilan kebijakan tersebut di masa datang dihadapkan pada dua tantangan pokok sekaligus. Tantangan pertama adalah tantangan internal yang berasal dari domestik, di mana target pelaksanaannya tidak saja dituntut untuk mengatasi masalah-masalah yang sudah ada, namun dihadapkan pula pada tuntutan demokratisasi yang terjadi di daerah ini. Sedangkan tantangan kedua adalah tantangan eksternal, di mana pembangunan di sektor pertanian (komoditas, produk dan jenis usaha jagung) diharapkan mampu untuk mengatasi era globilisasi dunia. Kedua tantangan ini sulit untuk dihindari karena merupakan suatu rumusan kebijakan pembangunan nasional yang sudah disepakati di negara ini.
Tantangan pemberdayaan petani mungkin bisa ditanggapi dengan intervensi pemerintah, yang berkaitan dengan pengembangan jagung untuk kesejahteraan petani, yang berorientasi non-efisiensi. Mengingat para petani NTT adalah merupakan net buyer (konsumen) dan sekaligus net seller (produsen), maka kebijakan harga dan non harga perlu digalakkan secara bersama-sama. Kebijakan pertama dapat dilakukan dengan adanya penetapan harga pembelian pemerintah atau intervensi pemerintah dengan melakukan stabilisasi harga (price stabilization) jagung. Pemerintah dapat melakukan pembelian produk petani pada saat panen raya dan mensuplainya ke pasar pada saat bukan musim panen jagung. Kebijakan kedua dapat dilakukan dengan keputusan stabiliasi pendapatan (income stabilization).
Jika dicari faktor-faktor penyebab stagnasi produksi pertanian di NTT selama ini, maka jawabannya, mungkin, terletak pada rendahnya kepemilikan teknologi, modal dan sumberdaya petaninya. Wujud-nyata kebijakan non harga untuk mendukung pengembangan jagung di NTT ini adalah dengan melakukan 1) pemberdayaan dalam pemanfaatan sumberdaya; 2) pemberdayaan terhadap penguasaan faktor produksi (teknologi usaha, kredit, benih unggul, pupuk, obat-obatan pertanian, dan irigasi); 3) pengembangan posisi tawar petani (peningkatan aksesibilitas informasi pasar); 4) pemberdayaan kelembagaan petani (penguatan kelompok tani, koperasi tani dan bank pertanian); dan 5) pengembangan infrastruktur/penunjang pertanian menjadi tanggung jawab daerah, terutama dalam hal penekanan biaya produksi dan transportasi pascapanen jagung.
Pendekatan pelaksanaaan secara teknis mungkin bisa diusulkan dengan pendekatan cluster, ketimbang pendekatan agribisnis. Pendekatan cluster dengan memusatkan semua aktivitas (on farm dan off farm) pada suatu wilayah/hamparan daratan memungkinkan adanya efisiensi dari penggabungan berbagai skala usaha yang kecil, yang sudah lama dipraktekkan para petani di NTT ini. Dengan demikian, nilai ekonomis yang tinggi dari skala usaha yang kecil dapat dicapai.
Dalam menciptakan kemandirian petani jagung, sebaiknya pepatah Cina kuno yang berbunyi "jangan berikan kami ikan tetapi kail" kita ganti dengan pepatah kita sendiri yang berbunyi: "jangan berikan kami ikan dan kail atau perahu tetapi ajari kami bagaimana cara membuat kail dan perahu serta cara memancing dengan tangan kami sendiri." Dengan demikian, jika ikan kami habis dan alat mancing serta perahu kami rusak, maka kami dapat memperbaiki dan membuatnya kembali dengan tenaga dan kemampuan serta keterampilan yang ada di dalam diri kami sendiri. Dengan prinsip ini, kesejahteraan petani jagung NTT akan berlangsung 'selama hayat dikandung badan.' *
Puskesmas Pasir Panjang Rawat 9 Pasien Diare
Posted On at di 01.33.00 by JawapogoKUPANG, PK -- Sembilan pasien penderita diare dan satu pasien gizi buruk komplikasi diare, Senin (12/1/2009), menjalani perawatan medis di Puskesmas Rawat Inap, Kelurahan Pasir Panjang.
Hal ini disampaikan salah satu petugas medis yang tidak bersedia namanya dikorankan, saat ditemui di puskesmas itu, Senin (12/1/2008). Petugas itu mengatakan, selama pekan pertama Januari 2009, banyak pasien diare, gizi buruk dan pasien yang dicurigai (suspek) deman berdarah dengue (DBD) serta pasien yang positif terserang DBD menjalani perawatan di puskesmas itu.
Namun ketika diminta data jumlah pasien yang terserang tiga jenis panyakit itu, petugas medis itu menolak. "Pak wartawan, kami mohon maaf. Data dapat dikeluarkan bila kami mendapat izin dari kepala puskesmas. Keputusan ini telah menjadi kesepakatan bersama. Kami tidak bisa memberikan data, " kata petugas itu.
Hal senada dikatakan Kepala Ruangan Perawatan Anak, Zevanya Kamengmau, saat ditemui di puskesmas itu. "Kami tidak bisa memberikan data tanpa izin kepala puskesmas. Kalau ada izin, kami pasti bantu Pak Wartawan," katanya. Kepala Puskesmas, Iviane Luanlaka, ketika hendak ditemui tidak berada di ruang kerjanya.
Bastian Feoh, kakek penderita gizi buruk, Risal Rihi (1,6 tahun), warga RT 28/RW 07, Kelurahan Lasiana, saat ditemui di ruang perawatan B, Puskesmas Pasir Panjang, kemarin, mengatakan, Risal baru dibawa ke puskesmas. Selama ini dia hanya berobat di Pustu Oesapa. Namun selama berobat di pustu itu, tubuhnya tidak mengalami perubahan. "Selama lima hari sejak sakit, Kamis (8/1/2009), Risal dirawat di rumah. Namun karena kondisi tubuhnya terus memburuk kami membawa dia ke puskesmas. Setelah ditimbang petugas medis, berat badannya hanya enam kilogram," katanya.
Pantauan Pos Kupang di ruang Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, Senin (12/1/2009), terdapat enam orang anak dan tiga orang dewasa penderita diare yang masih menjalani perawatan. Jeremias Tampani, orangtua pasien diare Yemri Fitriani Naklui, warga RT 16/ RW 08, Desa Retraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, saat ditemui di IRD, Senin (12/1/2009), menjelaskan, anaknya terserang diare sejak akhir Desember 2008 lalu.
"Sejak sakit kami membawa Yemri, berobat di Puskesmas Oekabiti. Yemri juga menjalani rawat inap di Puskesmas Oekabiti, Minggu (4/1/2009). Namun setelah dirawat selama dua hari, Rabu (6/1/2009), atas kesepakatan keluarga Yemri dibawa kembali ke rumah," katanya. (den)
Pos Kupang 13 Januari 2009 halaman 3
Lanjut...
Terserang Diare, 2 Balita Meninggal di RSU Kupang
Posted On at di 01.30.00 by JawapogoKUPANG, PK -- Dua anak di bawah lima tahun (balita) yang terserang diare, meninggal pada hari yang sama di RSU Prof. Dr. WZ Johannes, Kupang, Senin (12/1/2009). Melandri Matheos (satu tahun), warga Kelurahan Oesapa, meninggal di ruang kelas tiga anak pukul 13.15 Wita. Sedangkan Yemri Fitriani Naklui (satu tahun), warga RT 16/RW 08, Dusun IV, Desa Retrain, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, meninggal di ruang Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSU Kupang pukul 16.00 Wita.
Kedua pasien itu meninggal karena komplikasi diare dan gizi buruk. Sementara Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) merawat 21 pasien diare.
Salah satu petugas medis ruang kelas tiga anak RSU Kupang yang tidak bersedia namanya dikorankan, menjelaskan, Melandri Matheos menjalani perawatan sejak Sabtu (10/1/2009). Namun setelah menjalani perawatan selama dua hari, Melandri meninggal, Senin (12/1/2009), karena komplikasi penyakit diare dan gizi buruk.
Sementara Yemri Fitriani Naklui tewas Di IRD setelah menjalani perawatan selama enam jam. Naklui menjalani perawatan di IRD, Senin (12/1/2008) sekitar pukul 11.00 Wita.
Diberitakan sebelumnya, Jeremias Tampani, orangtua pasien diare Yemri Fitriani Naklui, warga RT 16/ RW 08, Dusun IV, Desa Retrain, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, saat ditemui di IRD, Senin (12/1/2008), menjelaskan, anaknya terserang diare sejak akhir Desember 2008 lalu. "Sejak sakit kami membawa Yemri berobat di Puskesmas Oekabiti. Yemri juga menjalani rawat inap di Puskesmas Oekabiti, Minggu (4/1/2009). Namun setelah dirawat selama dua hari, Rabu (6/1/2009), atas kesepakatan keluarga Yemri dibawa kembali ke rumah," katanya.
Tampani menambahkan, setelah berada di rumah, "Kami membawa dia ke tim doa. Namun setelah beberapa kali didoakan, kondisi tubuhnya semakin memburuk. Selama tiga hari, sejak Jumat- Minggu (9-11/2009), Yemri tidak makan dan minum. Karena kondisi tubuhnya terus memburuk, Senin (12/1/2009), kami membawanya ke IRD RSU Kupang."
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Kupang, dr. Marthinus Ginting, ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (13/11/2008), menjelaskan, memasuki pekan kedua Januari 2009, rumah sakit itu telah merawat 21 pasien diare. Dari 21 pasien tersebut dua pasien berasal dari Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, sedangkan 19 pasien lainnya berasal dari beberapa kelurahan di Kota Kupang.
Ginting menambahkan, sampai Selasa (13/1/2009), tidak ada pasien DBD yang dirawat di RSB. "Dari 21 pasien yang dirawat, tidak ada pasien yang meninggal dunia," katanya. (den)
Puskesmas Sikumana Paling Banyak Rawat Pasien Diare
Posted On at di 01.28.00 by JawapogoKUPANG, PK -- Puskesmas Sikumana di Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang paling banyak merawat pasien diare dibandingkan puskesmas-puskesmas lain di Kota Kupang. Sementara jumlah pasien diare yang dirawat di puskesmas-puskesmas di Kota Kupang sejak awal Januari 2009 sebanyak 159 orang. Sedangkan warga Kota Kupang yang dirawat di RSU Prof. Dr. WZ Johannes, Kupang karena terserang diare sebanyak 26 orang.
Kadis Kesehatan Kota Kupang, dr. Dominggus Serambu melalui Kasubdin Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), dr. Skolastika Daro mengatakan hal itu ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (14/1/2009) siang. Menurut Skolastika, data jumlah pasien diare tersebut sesuai laporan dari sepuluh puskesmas yang tersebar di Kota Kupang termasuk puskesmas pembantu.
"Sesuai data yang kami terima dari puskesmas, pasien diare terbanyak dirawat di Puskesmas Sikumana baru diikuti di puskesmas lainnya. Jumlah pasien diare yang dirawat di Puskesmas Sikumana mencapai 53 orang. Sedangkan puskesmas lainnya di bawah dari jumlah tersebut," kata Skolastika.
Sementara Kadis Kesehatan Kota Kupang, dr. Dominggus Serambu kepada wartawan saat ditemui di Pura Oebanantha- Oeba, Senin (12/1/2009) siang, mengatakan, meski jumlah penderita diare di Kota Kupang cukup banyak namun dibandingkan tahun sebelumnya angka penderita diare ini sudah menurun. "Untuk mengantisipasi peningkatan jumlah warga penderita diare kami sudah melakukan berbagai upaya antisipasi, terutama sejalan dengan program Kupang Green and Clean (KGC) 2008. Kami juga sudah melakukan program kaporitisasi air kepada warga di kelurahan-kelurahan," kata Serambu.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Puskesmas Sikumana, Kota Kupang, dr. Theresia Rallo, ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (9/1/2009) siang, menjelaskan, selama pekan pertama Januari 2009 Puskesmas Sikumana merawat 17 orang pasien diare dan satu pasien gizi buruk. Dari 17 pasien diare tersebut lima orang di antara menjalani rawat inap sedangkan 11 pasien lainnya menjalani rawat jalan.
Pasien diare yang menjalani rawat inap ada yang mengalami dehidrasi berat, namun setelah dirawat kondisi tubuhnya membaik. (mar)