Poltekes Gelar Pelayanan Gratis

OELTUA, PK -- Direktorat Poltekes Depkes Kupang menggelar kegiatan pengabdian masyarakat dengan memberikan pelayanan kesehatan secara gratis kepada masyarakat di Desa Oeltua, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Minggu (1/2/2009). Pelayanan kesehatan ini dilakukan oleh para dosen, dokter, perawat dan apoteker dari enam jurusan.

Disaksikan Pos Kupang, Minggu (1/2/2009), kegiatan ini dipusatkan di Kapela Oeltua. Warga dilayani oleh tujuh orang dokter, masing-masing dokter umum sebanyak tiga orang, dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan (THT) dan patologi dua orang, dokter gigi dua orang serta perawat dan apoteker masing- masing tiga orang. 

Hadir dalam kegiatan ini, ratusan masyarakat Desa Oeltua dan desa tetangga yang ingin mendapat pelayanan kesehatan. Jurusan keperawatan, misalnya, memeriksa masyarakat yang menderita penyakit, kebidanan memeriksa ibu hamil serta kesehatan bayi.

Jurusan kesehatan lingkungan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pembuatan tempat sampah yang higienis dan sederhana serta cara memberi kaporisasi air pada sumur yang ada.
Jurusan kesehatan gigi memeriksa dan mencabut gigi yang rusak serta memberikan penyuluhan bagi anak-anak cara membersihkan gigi atau menyikat gigi. Jurusan gizi mendekteksi anak-anak yang kurang gizi dan memberikan makanan tambahan berupa kacang hijau, serta jurusan farmasi menyediakan obat-obatan bagi pasien. Kegiatan ini juga melibatkan para pastor, suster dan pendeta yang memiliki jemaat di desa tersebut.

Direktris Poltekes Kupang, Sabina Gero, SKp, M.Sc, ketika dihubungi di sela-sela kegiatan mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengaplikasikan ilmu dan mendapatkan kredit poin. Targetnya, lanjut dia, untuk meningkatkan kesehatan masyarakat baik melalui penyuluhan maupun pelayanan langsung dari tiap-tiap profesi. "Masing-masing jurusan punya kegiatan pelayanan," katanya.

Menurut dia, kegiatan ini dilakukan setiap tahun sejak tahun 2006 dengan dana pengabdian yang dianggarkan oleh Depkes sebesar Rp 20 juta. Ia juga mengatakan bahwa obat-obatan yang ada disiapkan oleh Dinkes Propinsi NTT dan cukup untuk kebutuhan pelayanan.

Selain kegiatan tahunan, kata Gero, masing-masing jurusan juga melakukan kegiatan yang sama sesuai dengan bidangnya dalam setiap semester. (mas)

Pos Kupang 2 Februari 2009 halaman 3
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

Kampanyekan Pangan Lokal

BERBAGAI elemen masyarakat NTT hendaknya terus mengampanyekan budidaya dan pemanfaatan bahan-bahan pangan lokal, seperti jagung, ubi-ubian dan kacang-kacangan. Beras yang kita anggap sebagai bahan pangan utama selama 
ini terbukti tidak membuat kedaulatan pangan kita makin baik.
Pesan ini dilansir media ini, Jumat (6/2/2009). 

Hari Kamis (5/2/2009) siang, bertempat di ruang redaksi Pos Kupang berkumpulah para cerdik-cendekia dan para praktisi pertanian untuk membahas kedaulatan pangan di NTT. Tema ini dirasa sangat pas, selaras dengan kondisi kita di sini.

Peserta diskusi adalah empat orang petani, yakni Petrus Pebe asal Kelurahan Naimata, Marthen Taklal, Mathen Missa dan Nahor Taklal dari Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu. Juga praktisi pertanian, Zet Malelak, insinyur pertanian dari Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang yang sukses mendampingi petani, lalu ada Ir. Zainal Arifin selaku Kepala Kebun Unit Uji Politani Negeri Kupang, para pakar pertanian dan pejabat dari Dinas Pertanian dan BKPP NTT.

Banyak gagasan yang mencuat dalam forum diskusi tersebut yang memberi pencerahan kepada kita. Banyak ide, juga tak sedikit gugatan pada pola pendekatan kita terhadap petani yang membuat petani kita begitu tergantung pada beras. Petani-petani kita menjual jagungnya untuk membeli beras, atau menjual telur ayam kampung dan sayur-mayur untuk membeli mie instan. 

Maka menguatlah gagasan bahwa pangan lokal harus terus dikampanyekan. Kita jangan terlalu tergantung pada beras karena kita punya banyak makanan lokal. 

Dengan kata lain, kita jangan bergantung pada beras yang lebih banyak didatangkan dari luar daerah. Jika lahan kita memungkinkan, mengapa pemenuhan beras harus kita "impor"? Pandangan ini bukan dalam konteks kita tak ingin berinteraksi dengan dunia luar. Justru salah. Kita butuh inovasi-inovasi dari luar untuk memperkaya pemahaman kita. 

Jujur saja, kita punya potensi alam yang menyediakan pangan non beras yang tak kecil. Hanya karena pergeseran-pergeseran pola hidup, kita mulai beralih ke pangan beras. Ubi, pisang dan sayur-sayuran lokal mulai dilupakan. Begitu pula jagung yang cocok tumbuh di daerah ini.

Pangan non beras bukan kali ini diwacanakan. Sudah lama hal ini digalakkan. Hanya gaungnya tak kuat. Lemah dalam konteks cakupan kegiatan dan keterlibatan warga. Hanya diketahui para elit, para pejabat. Karena itu ke depan, kita harapkan diskusi dan sosialisasi diharapkan terus berjalan sampai masyarakat memahaminya. Indikatornya, apakah masyarakat sudah kembali mengonsumsi pangan lokal. 

Kita menyadari bahwa mengubah orientasi memang tak gampang. Setidaknya dalam konteks diskusi, Pos Kupang ini telah dua kali membedah khusus dalam hal pangan. Ini karena peran pangan itu sentral. Manusia bisa hidup jika ia makan. Ia bisa berkreasi bila "kampung tengahnya" sudah diisi. 

Tetapi pola konsumsi pangan yang salah akan menyebabkan banyak persoalan, seperti tingkat inteligensi yang rendah. Itu artinya kita tak bisa berkompetisi. Jika demikian maka kita telah kalah dalam besaing.

Propinsi ini memang sering direndahkan, disepelekan. Kita selalu disebut daerah kering, miskin, kurang gizi dan predikat negatif lainnya. Bathin tersiksa mendengar ungkapan-ungkapan seperti ini. Tapi kita tidak boleh rendah diri. Kita punya banyak kekuatan, juga punya keunggulan lokal, termasuk pangan. 

Warga NTT harus bangga jika kelak menjadi propinsi yang kaya akan hasil jagung, ubi kayu dan kacang-kacangan. Agar daerah ini jangan terus dikasihani dan diremehkan daerah lain karena kita terus lapar, kurang gizi dan mengharap beras dari luar daerah.

Karena itulah kita mendorong semua kekuatan, semua elemen di daerah ini baik perorangan maupun kelompok agar dapat menyadari persoalan-persoalan ini. 

Kita menginginkan perubahan perilaku dan orientasi. Dan, itu kita patut memulainya. Kita yakin, kelak akan menerima pernyataan-pernyataan yang menyejukkan. Jangan ada lagi predikat miskin. Janganlah daerah ini kering kerontang sepanjang masa. Sebaliknya, ia berubah menjadi hijau meski tahap demi tahap. 

Kita juga berharap busung lapar dan gizi buruk dapat hilang dari NTT. Rakyat kita sebenarnya punya makanan alternatif yang banyak. Alam menyediakannya. Hanya saja kita sudah terlalu tergantung pada beras. Seolah-olah ubi, pisang, kacang- kacangan bukan makanan sehingga orang baru mengatakan "sudah makan" kalau yang dimakan itu nasi.

Dari aspek gizi, pangan lokal itu sangat bergizi. Tetapi masyarakat kita justeru begitu "merindukan raskin" (beras bantuan untuk keluarga miskin), padahal mereka memiliki ubi, pisang, sayur mayur, ternak dan lain-lain. Mengapa bisa begitu? Inilah yang menjadi pekerjaan besar saat ini bagi semua kita, semua pemangku kepentingan untuk mengubah cara pandang dan "cara makan" masyarakat kita. Agar kita tak terus menerus dirundung berita kelaparan, gizi kurang atau gizi butruk, hanya karena kita kekurangan beras! *

Pos Kupang 7 Februari 2009 halaman 14 
Lanjut...

Posted in Label: , | 0 komentar

115,99 Ha Tanaman di Sumba Rusak Diterjang Banjir

WAINGAPU, PK -- Banjir yang terjadi selama Desember 2008 menerjang dan merusak 115,99 ha tanaman pangan di Sumba Timur (Sumtim). Tanaman pangan yang rusak pada umumnya yang berada di dataran rendah atau di daerah aliran sungai (DAS).

Berdasarkan laporan dari kecamatan yang masuk ke Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumtim, tanaman pangan yang rusak tersebut terdiri dari tanaman jagung 43,56 ha, padi sawah 72,18 ha dan kacang tanah 0,25 ha. Selain padi, jagung dan kacang tanah, juga tercatat 230 rumpun pisang yang rusak akibat diterjang banjir.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumtim , Ir. Josis Djawa mengatakan itu, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/1/2009). 

Dia mengatakan, data tersebut berdasarkan laporan dari kecamatan. Untuk memastikan kebenaran data tersebut, kata Josis, pihaknya sudah menurunkan tim ke lokasi-lokasi bencana. 

Selain karena banjir, kata Josis, kerusakan tanaman pangan juga disebabkan oleh angin, dimana jagung 404 ha rusak dan padi ladang 71,5 ha rusak.

Josis mengatakan, pihaknya tidak memiliki cadangan benih untuk antisipasi kerusakan lahan akibat bencana alam tersebut. Seluruh stok benih, katanya, sudah habis didistribusikan ke petani. Satu-satunya harapan, lanjut Josis, bantuan benih dari Pemerintah Propinsi NTT. 

"Kami sudah minta bantuan benih jagung ke pemerintah propinsi sebanyak 7,5 ton atau untuk lahan seluas 500 ha, namun belum ada jawaban resmi dari pemerintah propinsi," kata Josis.

Dia mengatakan, daerah-daerah yang dilanda bencana banjir sebagian besar adalah sawah tadah hujan seperti Lewa, Melolo. Sedangkan kacang tanah biasanya pada daerah aliran sungai (DAS). "Khusus untuk kacang tanah, musim tanam kali ini kami bantu bibit 10 ton," kata Josis.

Dikatakan Josis, jika bantuan dari pemerintah propinsi belum ada, pihaknya akan menyiasati dengan bantuan dari APBD II Sumtim. Meski demikian, Josis tetap berharap ada perhatian dari pemerintah propinsi untuk lahan-lahan tanaman pangan yang rusak. (dea)

Pos Kupang 8 Januari 2009 halaman 17
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar

Mungkinkah Petani Jagung di NTT Sejahtera?

Oleh Damianus Adar

Kandidat Doktor Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

HARAPAN yang tinggi akan peran pertanian dalam memecahkan berbagai masalah kritis yang dihadapi, terutama kemiskinan, apabila rekonstruksi dan restrukturisasi telah dilakukan, kembali dipertanyakan: mungkinkah para petani sejahtera? Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan harga pangan dunia serta krisis perekonomian dunia di tahun 2008 membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi para petani Indonesia. 

Kenaikan harga BBM telah meningkatkan biaya produksi barang dan jasa dan menurunkan profit perusahaan (pertanian). Dengan demikian, para perusahaan mengurangi penggunaan input produksi. Hal ini berdampak pada menurunnya produksi barang dan jasa. Dampak selanjutnya adalah permintaan akan barang dan jasa melebihi produksi yang tersedia, sehingga harga-harga meningkat (inflasi) dan pengangguran bertambah. Kenaikan harga-harga ini menurunkan daya beli petani (purchasing power) dan menurunkan kesejahteraan (welfare) mereka.

Kesejahteraan merupakan variabel/indikator yang dipakai di hampir semua disiplin ilmu. Dalam ilmu ekonomi pertanian, variabel itu menempati posisi sentral. Keberhasilan atau kegagalan sesuatu, atau serangkaian, kebijakan tercermin dari arah perubahan indikator kesejahteraan yang digunakan: meningkat atau menurun. Baik-buruknya 'sistem' pengelolaan/pemanfaatan sumberdaya alam akan tercermin pada meningkat atau menurunnya indikator kesejahteraan rakyat. 

Tinggi-rendahnya pendapatan petani, merata-timpangnya distribusi pendapatan petani vs non petani, lestari-terdegradasinya kondisi sumberdaya pertanian mengindikasikan berhasil-gagalnya kebijakan pembangunan pertanian yang telah kita terapkan. Dan, sampai batas tertentu, hal ini mencerminkan kuat-rapuhnya upaya politik yangg telah kita curahkan untuk menempatkan sektor pertanian dan para petani pada tingkatan yang lebih tinggi.

Tulisan ini tentang 'Mungkinkah petani jagung NTT sejahtera' merupakan suatu query terhadap para pembuat kebijakan pembangunan pertanian, penggiat politik pertanian -- jika memang betul-betul ada -- atau akademisi ekonomi pertanian dan politik pengelolaan sumberdaya alam. Secara teoritis, memperhatikan resource endowment yang kita miliki, jawaban atas pertanyaan tersebut adalah "Ya, mungkin". Secara empiris/praksis, jawabannya barangkali adalah "Ya, mungkin, dan kesejahteraan petani harus kita perjuangkan sekuat tenaga, sekeras pemikiran dan garis kebijakan yang sudah dicanangkan." 

Untuk dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan kesejahteraan petani di era fluktuasi perekonomian yang tidak menentu ini, maka pembangunan pertanian tetap merupakan hal yang penting. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya pembangunan pertanian: 1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam, 2) pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, 3) besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, 4) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, 5) perannya dalam penyediaan pangan masyarakat, dan 6) menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. 

Pembangunan pertanian masa lalu dan bahkan sampai saat ini mempunyai kelemahan antara lain terfokus pada usahatani (on farm), lemahnya dukungan kebijakan makro, serta pendekatannya yang sentralistik. Usaha pertanian sebagai suatu sistem (sistem agribisnis) dijalankan secara tersekat-sekat. Struktur sistem agribisnis yang tersekat-sekat ini dicirikan oleh: (1) subsistem agribisnis hulu (produksi dan perdagangan sarana produksi pertanian) dan subsistem agribisnis hilir (pengolahan hasil pertanian dan perdagangannya) dikuasai oleh pengusaha menengah dan besar yang bukan petani. Petani sepenuhnya hanya bergerak pada subsistem agribisnis penghasil produk primer; (2) Antar subsistem agribisnis tidak ada hubungan organisasi fungsional dan hanya diikat oleh hubungan pasar produk antara yang juga tidak sepenuhnya kompetitif; (3) Adanya asosiasi pengusaha yang bersifat horisontal dan cenderung bersifat sebagai cartel. 

Berbagai asosiasi pengusaha ini dapat ditemui pada subsistem hulu maupun subsistem agribisnis hilir; (4) Agribsinis dilayani oleh paling sedikit lima departemen teknis (pertanian, kehutanan, perindustrian dan perdagangan, tenaga kerja dan transmigrasi, koperasi). Berbagai departemen ini tentunya memiliki visi ataupun mandat yang berlainan sehingga berbagai kebijakan yang ditujukan pada agribisnis belum tentu integratif dan selaras satu dengan lainnya dipandang dari sudut agribisnis sebagai satu sistem.

Kebijakan lain pada usaha pertanian masa lalu adalah tingkat perlindungan pemerintah, kebijakan investasi dan alokasi kredit berdasarkan sektor lebih banyak ditujukan pada sektor industri. Strategi makro pemerintah dalam proses industrialisasi yang secara operasional lebih berorientasi pada sektor industri yang berbasiskan padat modal yang kurang mengakar dan sektor pertanian hanya bertumpu pada sektor beras.

Kelemahan-kelemahan tersebut mengakibatkan usaha pertanian kita saat ini masih banyak didominasi oleh usaha dengan 1) skala kecil, 2) modal terbatas, 3) teknologi sederhana, 4) sangat dipengaruhi musim, 5) wilayah pasarnya lokal, 6) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), 7) akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah, 8) pasar komoditas pertanian sifatnya mono/oligopsoni sehingga terjadi eksploitasi harga pada petani.

Pembangunan pertanian di masa datang tidak hanya dihadapkan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada, namun dihadapkan pula pada tantangan untuk menghadapi perubahan tatanan politik yang mengarah pada era demokratisasi, yakni tuntutan otonomi daerah dan pemberdayaan petani. Di samping itu, dihadapkan pula pada globalisasi dunia. Oleh karena itu, pembangunan pertanian tidak saja dituntut untuk menghasilkan produk berdaya saing tinggi, namun juga mampu mengembangkan pertumbuhan daerah serta pemberdayaan masyarakat.

Salah satu kebijakan untuk mengembangkan pertumbuhan daerah NTT saat ini adalah pengembangan jagung. Mudah-mudahan kebijakan ini bukan merupakan politik pro pertanian (pro konglomerat), tetapi lebih merupakan kebijakan yang pro petani. Intervensi pemerintah ini merupakan suatu hal yang benar dan mulia dalam rangka menyelamatkan para petani NTT dari kerawanan pangan dan kemiskinan. Namun, perlu diingat bahwa implementasi dari kebijakan ini pasti mendapat banyak tantangan. 

Sejalan dengan perubahan tatanan politik di Indonesia, dan di NTT khususnya yang mengarah pada globalisasi, maka keberhasilan kebijakan tersebut di masa datang dihadapkan pada dua tantangan pokok sekaligus. Tantangan pertama adalah tantangan internal yang berasal dari domestik, di mana target pelaksanaannya tidak saja dituntut untuk mengatasi masalah-masalah yang sudah ada, namun dihadapkan pula pada tuntutan demokratisasi yang terjadi di daerah ini. Sedangkan tantangan kedua adalah tantangan eksternal, di mana pembangunan di sektor pertanian (komoditas, produk dan jenis usaha jagung) diharapkan mampu untuk mengatasi era globilisasi dunia. Kedua tantangan ini sulit untuk dihindari karena merupakan suatu rumusan kebijakan pembangunan nasional yang sudah disepakati di negara ini. 


Tantangan pemberdayaan petani mungkin bisa ditanggapi dengan intervensi pemerintah, yang berkaitan dengan pengembangan jagung untuk kesejahteraan petani, yang berorientasi non-efisiensi. Mengingat para petani NTT adalah merupakan net buyer (konsumen) dan sekaligus net seller (produsen), maka kebijakan harga dan non harga perlu digalakkan secara bersama-sama. Kebijakan pertama dapat dilakukan dengan adanya penetapan harga pembelian pemerintah atau intervensi pemerintah dengan melakukan stabilisasi harga (price stabilization) jagung. Pemerintah dapat melakukan pembelian produk petani pada saat panen raya dan mensuplainya ke pasar pada saat bukan musim panen jagung. Kebijakan kedua dapat dilakukan dengan keputusan stabiliasi pendapatan (income stabilization). 

Jika dicari faktor-faktor penyebab stagnasi produksi pertanian di NTT selama ini, maka jawabannya, mungkin, terletak pada rendahnya kepemilikan teknologi, modal dan sumberdaya petaninya. Wujud-nyata kebijakan non harga untuk mendukung pengembangan jagung di NTT ini adalah dengan melakukan 1) pemberdayaan dalam pemanfaatan sumberdaya; 2) pemberdayaan terhadap penguasaan faktor produksi (teknologi usaha, kredit, benih unggul, pupuk, obat-obatan pertanian, dan irigasi); 3) pengembangan posisi tawar petani (peningkatan aksesibilitas informasi pasar); 4) pemberdayaan kelembagaan petani (penguatan kelompok tani, koperasi tani dan bank pertanian); dan 5) pengembangan infrastruktur/penunjang pertanian menjadi tanggung jawab daerah, terutama dalam hal penekanan biaya produksi dan transportasi pascapanen jagung.

Pendekatan pelaksanaaan secara teknis mungkin bisa diusulkan dengan pendekatan cluster, ketimbang pendekatan agribisnis. Pendekatan cluster dengan memusatkan semua aktivitas (on farm dan off farm) pada suatu wilayah/hamparan daratan memungkinkan adanya efisiensi dari penggabungan berbagai skala usaha yang kecil, yang sudah lama dipraktekkan para petani di NTT ini. Dengan demikian, nilai ekonomis yang tinggi dari skala usaha yang kecil dapat dicapai. 

Dalam menciptakan kemandirian petani jagung, sebaiknya pepatah Cina kuno yang berbunyi "jangan berikan kami ikan tetapi kail" kita ganti dengan pepatah kita sendiri yang berbunyi: "jangan berikan kami ikan dan kail atau perahu tetapi ajari kami bagaimana cara membuat kail dan perahu serta cara memancing dengan tangan kami sendiri." Dengan demikian, jika ikan kami habis dan alat mancing serta perahu kami rusak, maka kami dapat memperbaiki dan membuatnya kembali dengan tenaga dan kemampuan serta keterampilan yang ada di dalam diri kami sendiri. Dengan prinsip ini, kesejahteraan petani jagung NTT akan berlangsung 'selama hayat dikandung badan.' *

Lanjut...

Posted in Label: , , , | 0 komentar

Puskesmas Pasir Panjang Rawat 9 Pasien Diare

KUPANG, PK -- Sembilan pasien penderita diare dan satu pasien gizi buruk komplikasi diare, Senin (12/1/2009), menjalani perawatan medis di Puskesmas Rawat Inap, Kelurahan Pasir Panjang. 

Hal ini disampaikan salah satu petugas medis yang tidak bersedia namanya dikorankan, saat ditemui di puskesmas itu, Senin (12/1/2008). Petugas itu mengatakan, selama pekan pertama Januari 2009, banyak pasien diare, gizi buruk dan pasien yang dicurigai (suspek) deman berdarah dengue (DBD) serta pasien yang positif terserang DBD menjalani perawatan di puskesmas itu.

Namun ketika diminta data jumlah pasien yang terserang tiga jenis panyakit itu, petugas medis itu menolak. "Pak wartawan, kami mohon maaf. Data dapat dikeluarkan bila kami mendapat izin dari kepala puskesmas. Keputusan ini telah menjadi kesepakatan bersama. Kami tidak bisa memberikan data, " kata petugas itu. 

Hal senada dikatakan Kepala Ruangan Perawatan Anak, Zevanya Kamengmau, saat ditemui di puskesmas itu. "Kami tidak bisa memberikan data tanpa izin kepala puskesmas. Kalau ada izin, kami pasti bantu Pak Wartawan," katanya. Kepala Puskesmas, Iviane Luanlaka, ketika hendak ditemui tidak berada di ruang kerjanya. 

Bastian Feoh, kakek penderita gizi buruk, Risal Rihi (1,6 tahun), warga RT 28/RW 07, Kelurahan Lasiana, saat ditemui di ruang perawatan B, Puskesmas Pasir Panjang, kemarin, mengatakan, Risal baru dibawa ke puskesmas. Selama ini dia hanya berobat di Pustu Oesapa. Namun selama berobat di pustu itu, tubuhnya tidak mengalami perubahan. "Selama lima hari sejak sakit, Kamis (8/1/2009), Risal dirawat di rumah. Namun karena kondisi tubuhnya terus memburuk kami membawa dia ke puskesmas. Setelah ditimbang petugas medis, berat badannya hanya enam kilogram," katanya.

Pantauan Pos Kupang di ruang Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, Senin (12/1/2009), terdapat enam orang anak dan tiga orang dewasa penderita diare yang masih menjalani perawatan. Jeremias Tampani, orangtua pasien diare Yemri Fitriani Naklui, warga RT 16/ RW 08, Desa Retraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, saat ditemui di IRD, Senin (12/1/2009), menjelaskan, anaknya terserang diare sejak akhir Desember 2008 lalu. 

"Sejak sakit kami membawa Yemri, berobat di Puskesmas Oekabiti. Yemri juga menjalani rawat inap di Puskesmas Oekabiti, Minggu (4/1/2009). Namun setelah dirawat selama dua hari, Rabu (6/1/2009), atas kesepakatan keluarga Yemri dibawa kembali ke rumah," katanya. (den)

Pos Kupang 13 Januari 2009 halaman 3
Lanjut...

Posted in Label: | 0 komentar